Wednesday, July 20, 2005

Kanza Bersepeda

Sejak dibelikan sepeda roda empat, Kanza punya permainan baru yaitu acara dorong-dorong sepeda. Soalnya dia belum bisa ngayuh, jadinya didorong, hehehe… Belum berani genjot dia, bisanya baru dua tiga kayuh, sisanya…dorong lagiiii…
Waktu kulihat Kanza tumben-tumbenan bergaya duduk di sadel sepeda, aku ledekin Kanza, “Gitu donk, sepedanya dinaikin, dikayuh, jangan didorong…”
Eh, malah Kanza turun dari sepeda, trus sepedanya didorong.
Jadi, aku komentarin lagi deh, ”Eh, sepedanya didorong aja, jangan dinaikin.”
Dan dengan spontan Kanza malah menghentikan acara dorong-dorongan itu, dan serta merta menaiki sepedanya. Hahahaha....

Image hosted by Photobucket.com

NB:
Buat Novie and Danto, demi foto inilah salah satu kenapa aku jadi melewatkan acara ultah Naura tersayang... next time dech, janji :)

Tuesday, July 12, 2005

Doktor Tertua…

Beliau adalah Bapak Dr. H. Ahmad Wasim Darwis, kami biasa memanggil beliau Pakdhe Wasim. Beliau baru saja wisuda Doktor pada tanggal 18 Juni 2005 yang lalu, setelah mempertahankan thesis beliau. Yang teristimewa adalah…usia beliau ketika wisuda, yaitu 79 tahun !!!
Dengar-dengar sih, rekor ini akan dicatat oleh MURI sebagai rekor Doktor Tertua di Indonesia. Well, terlepas dari MURI dan predikatnya, yang saya catat di sini adalah SEMANGAT beliau untuk terus belajar. Sebagai purnawirawan TNI, intelektual, mantan pengajar, sekaligus ulama, bagaimanapun semua terheran-heran mengetahui kabar bahwa Pakdhe mengambil sekolah Doktor.
“Pakdhe kan sudah sepuh (= tua, bahasa Jawa)”
“Buat apa lagi ya, kan sudah pensiun.”
”Pakai biaya sendiri lagi, ckckck...”
“Mbok ya sudah, santai saja melewati pensiun..”
Tapi, tentu saja, Pakdhe Wasim maju terus. Saya yakin, itu semua bukan demi karier atau pekerjaan. It’s beyond that. Itu demi ilmu pengetahuan, demi diri Beliau sendiri. Beliau melahap semua buku yang berhubungan dengan tesis beliau, mencari buku-buku yang diperlukan sampai ke ujung dunia sekalipun. Jangan tanya tentang perpustakaan pribadi beliau. Kamar saya saja kalah besar, dan koleksi buku saya barangkali tidak ada 5 %-nya.
Meski sidang beliau sempat tertunda-tunda, akhirnya kini secara resmi gelar Doktor telah tersandang dengan manis. Dan hawa manis itu menebar dalam semangat keluarga beliau pula : Budhe Wasim, kelima putra-putri, dan keenam cucu.
Selamat buat Pakdhe Wasim, Pakdhe akan selalu jadi penyemangat saya untuk terus belajar setiap hari, bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas ruang dan waktu, serta memupuk keyakinan dan semangat bahwa suatu hari nanti, saatnya akan tiba buat saya :)

Monday, July 04, 2005

My Caca Called Me….

Handphone saya berbunyi…. Melihat nomor peneleponnya, segera saya angkat. Ternyata dari Uti-nya Caca, ”Mbak, ni ada yang nangis-nangis, katanya ’Telponin tante Rani, telponin tante Rani’....” kata beliau.
Telepon rupanya segera diangsurkan ke Caca karena kemudian terdengar suara anak manis sambil menangis...
Caca (C) : ”Tante Wani...”
Tante Rani (T) : ”Caca.... ada apa sayang, kenapa nangis?”
C : “Caca jatoh Tante, didoyong Tatak...” Mau ngga mau, saya tertawa. Lucu banget, ngadu toh ini.. Namanya lagi maen ama Kakaknya, pasti kadang pake berantem juga hehehe...
T : “Oh, Caca jatuh didorong Kakak?”
C : “Iyaaa...”
T : “Sakit ngga Ca?”
C : “Iya, takit Tante..”
T : ”Oh, sakit yaaa...kasiaan... Sebelah mana yang sakit?”
C : ”Tebeyah kiyi”
Hmmmmp... lucunya, padahal maksudku kan nanyain sakitnya di tangan apa di kaki apa di mana gitu :D
T : ”Oh, sebelah kiri. Di tangan apa di kaki Ca ?”
C : “Di kaki...”
T : “Tadi emang main apaan ama Kakak?”
C : ”Main macak-macakan...”
T : ”Duh seneng yaa main... dah sekarang main lagi yaa, jangan nangis lagi yaa..”
C : “Iyaa…”
T : “Dah ngga sakit kan? Caca jangan nangis lagi yaaa...”
C : ”Iya tante...”
T : ”Daaah Caca, mmmuaach...”
C : “Mmmmmuuach..”
T : “Assalamualaikum...”
C : “Kumcayam...”
Dan telepon pun ditutup.... Oh God, how I miss her so much :)

Image hosted by Photobucket.com

Monday, June 20, 2005

Trip Pembuktian Cipularang

Akhirnya tercapai juga keinginan saya mencoba jalan tol baru Cipularang alias Cikampek – Purwakarta – Padalarang. Setelah mendengar berbagai iming-iming kerabat, temen, dan kolega yang bercerita macam-macam, plus promosi yang katanya ‘Jakarta-Bandung 1.5 jam’, rasa penasaran saya tambah susah dicegah.
Eh, kebetulan…. Ada tugas kantor yang mengharuskan untuk pergi ke Kota Kembang, ditambah kondisi pekerjaan dan lain-lain yang mengijinkan kami hanya sehari meninggalkan markas, maka pilihan jatuh perjalanan pulng pergi dalam sehari, via tol Cipularang. Kebetulan sekali :D

So, di pagi yang cerah (setelah hujan semalaman), hari Rabu 15 Juni 2005 dimulailah perjalanan pembuktian yang mendebarkan ini (uh kayak apa aja seh :p).
- Kendaraan yang digunakan : Isuzu Phanter LV 2.5L DI
- Jumlah penumpang : 4 orang
- Bahan bakar : Biodiesel B10 atau Biodiesel 10 % Solar 90 % (tentang Biodiesel kapan-kapan saya ceritakan khusus deh, janji)
- Kecepatan rata-rata : 100 km/jam
- Pengemudi : berpengalaman (not me loh, jgn tuduh daku ngebut! hehe)
- Berangkat dari kantor di Jl. Thamrin : 8.04 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pondok Gede : 8.35 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pasteur : 9.59 WIB
- Kondisi lalu lintas : lancar
- Waktu tempuh Jakarta – Bandung : 1 jam 24 menit (klaim tersebut dihitung dari Pintu Tol Pondok gede samapi Pintu Tol Pasteur)
Nah, puas sudah saya membuktikan. Anyway, mungkin untuk jenis kendaraan, beban kendaraan, dan keberanian pengemudi hasilnya bisa beda ya (maksudnya kalau driver-nya pembalab angkanya bisa lain tuh heheh…)

Image hosted by Photobucket.com

Dan Perjalanan ini masih ada bonus lihat pemandangan sepanjang jalan tol. Memang nggak sehijau kalau lewat jalur Puncak atau Purwakarta sih, tapi lumayan lah. Teristimewa adalah jempatan Cipadu yang panjangnya 700 m melewati lembah nan hijau trus sebelah kirinya (kalau dari Jakarta) sejajar ama jalan kereta api, yang dengan suksesnya kupotret (dengan segala hormat deh buat Rouf, fotonya mirip yaa tapi yang ini kubuat sendiri loh hehe…).

Image hosted by Photobucket.com

Jalurnya juga cukup menantang karena ada tanjakan panjang banget (yang berarti turunan panjang dari arah sebaliknya!!) trus berkelok di sekitar Jatiluhur dan naik turun lagi. Nggak semenantang Puncak sih, but that’s fine lah. Mobil and driver tetep harus fit lah.
Lucu juga lihat di tepi jalan ada sebuah bukit kecil bertanam teh yang separonya gundul terkena proyek tol ini. Ada juga rasa khawatir lihat beberapa bagian dinding bukit yang terpotong jalan tol dan tampaknya bisa longsor kapan saja. Beberapa kali kata ‘woow’ ketika melintas jembatan-jembatan panjang dan mengamati pegunungan yang bentuknya unik banget nun di sana. Serta beberapa kata 'aduh’ sewaktu mobil melintasi jalan beton atau kadang aspal, yang ngga rata.

But anyway, alhamdulillah akhirnya kami sampai dengan selamat di tujuan di Bandung yaitu kampus ITB, tanpa tersesat meski keempatnya ngga tau jalan, tak seperti biasanya (eh, saya punya banyak cerita tentang tersesat masuk kota deh).
Buat saya pribadi, saya nilai sebagai prestasi yang lumayan mengingat ini baru 5th trip to Bandung, hahaha…
Tentu saja, dengan sedikit keluhan kurangnya penunjuk arah di kota ini dan banyaknya jalan serarah yang membingungkan, jadi musti terjebak satu jam di kota Bandung sebelum sukses masuk jalan tol lagi lewat Pintu Pasir Koja (nah, apa ngga kurang jauh tuh tersesatnya….)
CU again Bandung.....

Monday, May 30, 2005

"Percayalah Padaku....."

“Kenapa sih kamu tidak percaya sama aku? Kita kan udah kenal lama. Kamu seharusnya percaya padaku!!!” sergahnya dengan marah pada saya. Saya tertegun dan berpikir.
“Percaya itu tidak ada hubungannya dengan lama atau sebentar…,” kata saya.

Kepercayaan pada seseorang tidak bisa muncul begitu saja. Kepercayaan itu berasal dari penilaian kita pada seseorang, berdasarkan tindakan dan sikap seseorang menghadapi suatu hal. Tak perlu waktu lama...tapi oleh suatu hal yang tiba-tiba terjadi secara spontan pun, rasa percaya bisa tumbuh...

Di masa-masa kampanye pilkada seperti saat ini atau jaman pemilu yang lalu misalnya. Banyak calon yang menggelar program, menebarkan janji dan bujuk rayu, agar pemilihnya percaya dan menitipkan suaranya pada sang calon. Tapi bagaimana bias dipercaya, kalo sang calon berjanji memajukan pendidikan namun tak punya program nyata ataupun jejak-jejak tindakan dalam bidang pendidikan pada kehidupan sebelumnya ? Ngga ada track record-nya. Jadi, bisa dipercaya atau tidak…?

Sewaktu menonton salah satu episode “Penghuni Terakhir”di salah satu stasiun TV swasta, ada salah satu penghuni yang ditanya apa misinya, mau diapakan uang (dalam bentuk rumah) sebanyak itu nantinya. Jawabnya untuk kampanye anti bla bla bla. Lalu Helmi Yahya bertanya, selama ini apa saja yang suda anda lakukan untuk memberantas blab la bla itu, anda ikut organisasi atau kegiatan apa, atau telah melakukan apa? Jawab sang penghuni, tidak ada!
Tidak ada?!! Hampir saya tertawa terbahak. Dengan segala hormat, seolah misi yang dikatakannya itu, hanyalah sebagai penarik simpati pemirsa saja, tanpa ada track record, tidak dari hati?

Ketika hendak menitipkan kepercayaan, pastinya hati akan menilai bagaimana seseorang bertindak atau bersikap menghadapi sesuatu kasus. Ketika kita bisa meninggalkan handphone tergeletak di depannya tanpa khawatir akan dibaca-baca sms-sms atau apapun di dalamnya tanpa seijin kita, itu berarti kita percaya padanya karena kita tahu ia menghormati hak orang lain. Ketika ada yang memerlukan bantuan, ia tahu berinisiatif bertindak. Ketika berkata dan berjanji, itu tidak sekedar di ucapan. Menjaga amanah….

“....untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain, itu bukanlah dengan berkata ‘Percayalah padaku!’, tapi dengan MENJADI orang yang dapat dipercaya.....”

Thursday, May 19, 2005

Wanita dan Pria

Waktu membuka-buka lagi koleksi foto tahun lalu, saya jadi teringat negeri Riau yang waktu itu saya kunjungi. Lumayan loh, hampir 3 bulan stay di sekitar Pekanbaru. Awalnya ngga kebayang, malah rada takut. Maklum aja ya, belum pernah ke lapangan. Real site, real engineering, hehehe... Dunia yang maskulin? Barangkali. Yang jelas, banyak yang berkomentar mendengar keberangkatanku, “Duh kok mau sih…?” atau ”Emang ngga ada yang lain yang bisa pergi, yang cowok?” atau pun, ”Riau kan panas, ngga takut item?”

Tapi.... saat itu saya merasa harus pergi. This is a step i have to take, a journey to overcome. Kalo tidak pergi, saya tidak akan bisa tau rasanya, dan mungkin akan penasaran selamanya. Tentu saja seraya tak lupa berdoa dan berkeyakinan bahwa apa yang saya lakukan itu ada manfaatnya. (Dan lagi, ada juga teman-teman saya, cewek juga, yang field engineer banget di salah satu Oil Company. Tempat kerjanya tak lain tak bukan ya di tengah hutan belantara hehehe… (piss girl!!). They can survive with that…)

Dan tahukah....di tengah dunia yang maskulin itu, saya justru merasa wanita.

Saya dituntut bekerja sebaik pria, dan saya memang minta tidak dibedakan. Saya berusaha menjadi seorang profesional, yang mengerti apa yang saya kerjakan. Nyatanya (menurut saya) saya bisa berkerja sekeras mereka, saya bisa berpikir logis, saya bisa menyetir dengan baik (bahkan mungkin lebih baik dari beberapa di antara mereka), saya bisa memanjat tower 15 meter itu (yang bahkan ada dari mereka yang belum pernah memanjatnya :p), saya bisa membaca peta dan bernavigasi, saya tidak takut kulit jadi item....pendeknya saya bisa kok.

Tapi di tengah segala kebisaan itu, justru dengan sendirinya saya menerima bahwa saya wanita dengan berbagai hal yang ‘saya tidak bisa’ dan ‘saya berbeda dari mereka’. Saya tidak kuat mengangkat jerigen 20 liter penuh air, saya tidak kuat memutar baut yang gede itu dan memang tidak berminat mencobanya, saya tidak bisa mandi di kali ketika waktu itu sumur kering, saya tidak akan dilepas pergi malam-malam sendirian, saya dipaksa pindah ke bangku belakang ketika melintasi salah satu ruas Lintas Timur Sumatera yang rawan, saya tidak pernah ditinggal sendiri di belakang ketika jogging lewat kebun kelapa, saya mengalami datang bulan....

Dan toh, mereka pun tidak keberatan mencuci piring, memasak indomie, dan bersih-bersih rumah. Walau kadang masih berantakan juga :p

Wanita memang sejajar pria, dan pria tidak lantas lebih tinggi dari wanita. Wanita dan pria sama pentingnya, tapi bisa memiliki orientasi berbeda. Wanita dan pria diciptakan dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Wanita dan pria.... saling mengisi....

Setiap orang, pria ataupun wanita, memiliki fungsi di dunia ini sesuai dengan bakat dan keahliannya....
Note :
.....saya pengen deh lebih sering meng-up date lembar-lembar ini,
melengkapi dgn asesoris biar lebih friendly...
uh, belum sempet .. mudah2an esok hari bisa lebih sering deh...
iri banget sama temen2 yang hampir tiap hari nulis di blog, hehehe...

Wednesday, May 04, 2005

Big Plan Today....

".....We can never have perfect information or tools but…
We should OPTIMIZE WHAT WE CAN TODAY and recognize that IT WILL CHANGE IN THE FUTURE, as our ASSUMPTIONS NEED ADJUSTING according to the change of information…."

from somewhere... (upss sorry i forgot :p), actually this is 'engineering words' but i think this can work in life