Showing posts with label Book. Show all posts
Showing posts with label Book. Show all posts

Tuesday, September 18, 2012

Emma ^^

*haiiisssshh apa-apaan iniiiih, sudah lama banget ngga posting!! :O

Okelah,... siapakah "Emma" yang saya jadikan judul ?
Dia adalah tokoh dalam novel karangan Jane Austen dengan judul yang sama.



Well, sebenarnya saya mengetahui karya Jane Austen ini pertama kali bukan dari bukunya, tapi dari mini serinya yg ada di youtube :) 



Dan ternyata buku ini sudah difilmkan/diadaptasikan untuk ketiga kali, dibikin TV miniserinya sebanyak 8 kali, serta dipentaskan beeerkali-kali. Tapi yang saya tonton ini versi terbaru dari miniserinya yang disiarkan di BBC tahun 2009, dengan Romola Garai yang berperan sebagai Emma. Ooooow such a cute and beautiful girl!!! (selaluu terheran2 dengan tatanan rambutnya :p)

Bagaimana ceritanya saya bisa nemu film ini??? hahahaha... pas lagi heboh-heboh packing niiih, pas suatu malam lagi jenuuuh banget, sudah jam 10 lewat tp kamar masih berantakan... maka saya ngeyutub, dan seperti biasa saya nyariin karya2 Jane Austen yang memang saya suka dari dulu, mulai dari P&P (ini juga favorit sepanjang masa dan ngga pernah gagal menghibur tapi pasti bikin galau hahahahaaa), Sense & Sensibility,... dan jreng jreeeeng... sampailah saya pada Emma!!!

Waaaah langsung tancap beberapa episod tanpa sadar nonton sampe jam 1 !!! Ya ampun!! 

I like the story, the languange (bener2 English British abissss), the casts, and ...the ending! Setelah tamat, saya penasaran dan mengulangi lagi, karena merasa ada bagian2 yg saya ngga ngerti, lalu mengulang lagi karena pengen ngelihat lagi episod2 penting... Sehingga kalau ditotal, kayaknya sampai ini ditulis, saya sudah tamat 6 kali !! Hahahaha....

Film ini bercerita tentang Emma Woodhouse, seorang gadis manis dari kalangan atas, yang percaya dirinya cocok sebagai matchmaking alias makcomblang sementara berpendapat dirinya sendiri tak ingin menikah karena ingin selalu menemani sang Ayah. Tapi kisah usahanya mencomblangi temannya mengalami berbagai sandungan dan ditentang oleh sahabat keluarga sekaligus tetangga sekaligus saudara lelaki dari kakak iparnya, Mr. George Knightly. Mereka berdua sudah berteman sejak kecil dan selalu berantem serta saling mengejek tapi juga saling menyayangi, hingga akhirnya timbullah cinta platonis di antara mereka berdua, meskipun usia mereka terpaut cukup jauh (well, adiknya si George itu menikah dengan kakaknya Emma... nah lho... jauh kan selisihnya? hehehe...).

Anyways.... This is my favorite episode, the dance of Emma & Mr. Knightly, that was started by the question "Will you dance, dear Emma?"

saya yakin di episod ini sebenarnya Emma sudah mulai suka ama Mr. Knightly, cuman dia ga sadar ;)

Dan tentu saja di episod ketika Emma menyadari perasaannya yang sebenarnya dan ketika Mr. Knightly menyatakan cintanya ke Emma donk!! Suka bangettt!!!

"Tell me... have I no chance to succeed? ...My dearest Emma ... for that is what you always have been, ..and you always will be ... My most ... beloved Emma... I cannot make speeches... If I love you less I might be able to talk about it more ... but you know what I am ...."

Aaaah such a beautiful expression!!
And of course, I love the last episode very much... This is where they confess each other when they start to fall in love. So sweet!!! 
It is also the episode when Emma said she cannot marry George because he cannot leave his father. And then George said something really beautiful ;)

...I will do far more, without a second thought ....

*tamat ketujuh kali gara-gara postingan ini :D

Thursday, May 17, 2012

Starbucks Coffee and its Personal Taste

Well actually... Never thought in my mind to buy coffee at Starbucks cafe before I came to Japan..

First, I still prefer to drink coffee at office (my coffee time is either around 10 am or 3 pm),  my fave unbeatable coffee is still kopi A*Csusu :) Second, no available Starbucks Cafe on my way to office that i can stop by (well, yeah, you know :p). Third, it is expensive :D So, I have never bought one :p

My first acquaintance with Starbucks in Japan was when Sensei bought me a cup of chai latte. It was winter and I was in the middle of working on reports that boiled my head... and, so, that Starbucks' chai latte tasted awesome!! Smell good, taste good!

Since that, I begin my relationship with Starbucks :)

The "worse" thing is that I moved to Tsukuba since sept 2011, and here it is : a Starbucks Cafe just in front of the ticket gate at Tsukuba Station!!! Just brilliant!! :)

So here came autumn and then winter, while I constantly moved here and there through this station (esp. to go to Tokyo), and there are many moments that I found some remaining money at my Pasmo card after tapping it at the ticket gate, then I felt that after wading the day with all the distance and cold weather, I should give my self a present and a cup of chai latte would be just perfect. Another moments of fighting distance and coldness were when I should pack my self to Tokyo every Monday morning for zemi, then while walking down the elevator to the station, here comes a very nice smell of coffee, and after charging my Pasmo and confirm that I still have at least 10 min before the departure time, then I turn my self to Starbucks Cafe and take a cup of hot Caramel Macchiato (small size, of course) away.
Caramel Macchiato, oishii ^^

Oke, I admit that I have tried Caffe Latte and Cappucino, well the Cappuccino was good, but sometimes it gives me headache, so i prefer taking Caramel Macchiato :)

Price? Hahahaaa, first, like I said, those cups were PRESENTS for my self (so it is priceless :p); second, i used Japanese Government's money to buy those cups; third, to compare with the price of this coffee at Jakarta, it is almost the same (350-390 yen/small cup; at Jakarta bout Rp 30,000/cups, cmiiw, you know i never bought one in jkt :p), so it is relatively cheap here!!

One day I was strolling to amazon (bad habit!!), i found a book of Michael Gates called "How Starbucks saved my life". Quite amaze with the tittle and the comments on this book, i clicked on "buy".

Well, yes! It is a good book!!
It is a story about the strugle of a white American man that ruin his perfect life just at the same time of losing his job as a marketing director and got diagnose of some sickness. Then, jobless, broke, desperate, he applied for a job at a Starbucks cafe, that run by a black woman - one situation that have never crossed on his mind.

The work was hard. But at the same time he learnt many things! ..about how to treat people with respect (no matter he/she is white/black, rich/poor); how to make a good and personal service that make your costumers feel at home and come again (it is mentioned on the book that the starbucks' staff was taught to greet customer, look in to their eyes with smile, remember their name and their fave coffee); how to really do your job from the heart (Mr. Gates does love coffee); and what's important thing in life : family, happy, and respect.


I'm also happy to find some information about coffee. Aaaaand, when i turn to one page, i found this :
"...how volcanic soil in Indonesia made for particularly delicious beans. I mentioned Sumatra, my first love, and also Sulawesi, another Indonesian coffee that was a little more subtle, more elegant..."


Oh, I love Indonesia!!! I promise I would taste them all at home!! ^^


Aaah, one more thing... at one chill night, when I return from Tokyo and stop by to get a cup of Chai Latte, they did give me a personal message !




I was so touched by their warm message. They did not write "arigatou", right? That means the message was for ME! (whatever, I felt light up that night :p) Ok then, I will come again ;)

Sunday, January 11, 2009

To Kill a Mockingbird

Itu adalah judul novel yang baru aja saya tamatkan. Buku yang luar biasa bagus.

to kill a mockingbird

Novel karangan Ibu Harper Lee ini sebenarnya terbit tahun 1960 dan karena keindahan ceritanya telah mendapat Pulitzer Prize pada tahun 1961. Jadi sebenarnya saya terbilang terlambat juga ya baru membacanya di penghujung 2008. But, ternyata buku ini baru masuk ke Indonesia bulan April 2008, so belum terlalu telat juga kaan. Udah dilirik-lirik aja sekian lama kalo lagi ke toko buku dan baru terbeli akhir bulan lalu hahaha...

Anyway, kisah dalam novel ini menurut saya adalah kisah yang abadi, bisa dibaca kapan saja, tidak ada kata terlambat dan masih relevan walau sudah terlewat puluhan tahun.
Kisah dalam buku ini diambil dari sudut pandang seorang gadis cilik umur 8 tahun bernama Scout, yang ’berpetualang’ menjalani kehidupannya di Maycomb County bersama kakak lelaki yang selalu menjaga dan menyayanginya yaitu Jem, serta ayah penyayang dan pengertian bernama Atticus.

Inti ceritanya tentang bagaimana konsekuensi yang harus mereka jalani akibat prasangka dan dendam, yang menyertai keteguhan dan komitmen sang ayah untuk membela seorang kulit hitam (Tom) yang dituduh memperkosa dan menganiaya seorang gadis kulit putih. Bahwa kenyataannya belum tentu Tom bersalah, tetap saja orang-orang menganggapnya bersalah karena anggapan ’orang dengan warna kulit seperti dia memang begitu’. Bahwa Atticus menjadi pembela Tom di pengadilan dengan asas praduga tak bersalah, dengan dasar setiap orang berhak mendapatkan keadilan, dengan menegakkan kredibilitasnya terutama di mata anak-anaknya yang terkasih, tetap saja banyak orang menuduhnya ’pecinta nigger’ dan mengungkapkan kata-kata yang melukai hati putra-putrinya.

Dengan sedih dan terluka, Scout dan Jem harus menerima kenyataan bahwa meskipun jalannya pengadilan jelas menunjukkan bahwa Tom tak bersalah dan difitnah, namun juri tetap menyatakannya bersalah. Sebuah pelajaran yang berharga buat keduanya. Pelajaran yang nyata dan masih relevan. Bahwa dunia ini tidak berwarna hitam dan putih. Bahwa prasangka buruk bisa mematikan seseorang, mematikan karakter dan bahkan jiwa seseorang. Bahwa dendam dapat melukai orang-orang tak bersalah, melukai hati dan raga. Bahwa orang yang disangka jahat ternyata telah menjadi penyelamat hidupnya.

Masih relevan, karna saat ini pun kalau tidak disebabkan perbedaan warna kulit, bisa jadi prasangka buruk itu berdasarkan perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan bangsa, perbedaan pendidikan, bahkan perbedaan keluarga. Seberapa sering anda mendengar komentar tak berdasarkan seperti : ’ah hati-hati sama orang suku AAA, mereka itu pelit’ sehingga serta merta dikucilkan dari pergaulan, atau stereotip bahwa ’kalo lulusan dari universitas YYY itu sombong dan susah bekerja sama’, atau ’orang dari daerah ZZZ itu kalo kerja malas-malasaan, tak perlu diterima kerja’ atau bahkan ’jangan dekat-dekat dengan keluarga HHH, mereka itu gak ada yang bener’........ Padahal itu tidak selamanya benar !!!

Bukankah setiap manusia diciptakan masing-masing, dengan keunikan jiwa dan hati serta perjalanan hidupnya.. Betapa menyakitkan jika seseorang yang benar-benar baik dan tak bersalah, jadi harus menanggung luka akibat stereotip dan prasangka atau bahkan dendam masa lalu terhadap leluhurnya...

”Kau tak akan pernah mengenal seseorang sampai kau berada dalam posisinya dan mencoba menjalani hidupnya, memandang dunia dari matanya", pesan Atticus pada Scout.

Semoga kita bisa menjadi orang-orang terbebas dari prasangka buruk, dendam, iri hati, dan menjadi bangsa yang cinta damai.

Selamat tahun baru Hijriah 1420 H, Selamat tahun baru 2009.
Tomorrow should be better than today :)


NB : aaaaah akhirnya, setelah sekian lama, bisa posting lagiii...

Friday, September 19, 2008

Dejavu

Saya belum lama ini menyelesaikan sebuah novel judulnya The Appeal karangan John Grisham.

Photobucket
foto from here

Novel itu bercerita tentang sebuah perusahaan pembuat pestisida yang disinyalir membuang limbahnya secara illegal sehingga mencemari air tanah di Cary County, Mississippi. Air minum kota kecil tersebut menjadi kuning bahkan coklat dan bau. Kanker mulai merajalela, sampai-sampai county tersebut punya julukan ‘cancer county’. Salah satu yang menjadi korban adalah keluarga Baker. Dalam selang 8 bulan Jeannete Baker harus kehilangan suami dan anaknya karena kanker.

Akhirnya Jeannete pun menuntut ganti rugi kepada perusahaan itu, dengan diwakili pengacara Mary Grace Payton dan suaminya. Dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan kekayaan, bahkan hingga terancam bangkrut, kedua pengacara ini memperjuangkan hak Jeannete hingga akhirnya juri pengadilan memutuskan perusahaan itu, Krane Company bersalah dan mengharuskan Krane membayar gain rugi 41 juta dolar.

Pemilik Krane, yang tak rela membayar sepeserpun walaupun dalam kenyataannya memang telah melakukan pembuangan limbah secara illegal itu ,lantas mengajukan banding ke Mississippi Supreme Court. Betapa kebetulan, Hakim pengadilan tinggi sebentar lagi akan habis masa jabatannya sehingga akan diadakan pemilihan ulang.

Maka, dengan kekuatan uangnya, pemilik Krane menyewa sebuah konsultan, untuk mencari kandidat hakim untuknya, yang dibentuk, dibekali, dibiayai, dan diiklankan, supaya menang dan menjadi hakim yang kontra pertanggungjawaban perusahaan (liability).
Maka akhirnya dengan gelontoran dana kampanye yang besar, terpilihlah ia menjadi supreme Court Justice.

Dan ketika kasus Baker vs Krane sampai pada pengadilan tinggi, akhirnya semua pun harus menerima bahwa kasus yang sedemikian nyata harus kalah dari kekuatan kapitalis. What a sad ending of John Grisham, tapi kok rasanya ending itu seperti nyata dan sangat mungkin saja terjadi.

Semua terasa seperti dejavu saat minggu lalu saya membaca berita di koran ini tentang kisah (mantan) anggota DPR Agus Condro yang membeberkan 400 travel cek masing-masing bernilai minimal 50 juta untuk menyukseskan pemilihan ibu deputi Gubernur BI yang terhormat. Kabarnya, menurut berita ini , kemungkinan berasal dari sponsor yang menyokong dan diuntungkan oleh kebijakan2 sang deputi dalam bidang perbankan.

Aduh dejavu banget kayaknya…. Jadi ingat kisah The Appeal itu....
Hmmmmhmmm… negaraku, negaraku...


NB :
1. kisah travel cek ini semoga tidak menghilang tertelan kasus penangkapan terbaru KPK :p
2. Maap buat yang belum baca buku ini, meski dah saya ceritain tetep gak rugi kok kalo nerusin baca, bagus sih bukunya :)

Friday, January 25, 2008

Buku disayang

Hmmm gara-gara diskon Gramedia besar2an awal tahun ini - ada banyaaaaaak sekali buku di toko, hebat ni para penulis pada produktif :) - koleksi buku saya nambah 5 buah (untuuuung masih bisa menahan diri, kalo ga bisa blanja lbh bnyk lg tu :p). Waah udah mulai pusing nyimpennya. Mungkin saya butuh rak baru, biar buku2 itu tetap rapi dan gak debuan. Seneng rasanya liatin buku2 itu… walau jumlahnya gak sebanding lah ama perpustakaannya Pakde Wasim almarhum, atau pakde Mukti almarhum, atau bahkan bapak saya sendiri tapi yaaa seneng aja ngeliatinnya, hehehe buku2 yg kukumpulin sendiri :)

Apalagi buku-buku jaman sekarang kemasannya bagus. Dulu kalau beli buku biasanya musti dikasih sampul plastic lagi, takut lecek, kan sampulnya tipis. Tapi sekarang sampulnya pada lebih kuat. Sampul bukunya makin menarik aja, plus sekarang pasti ada pembatas bukunya. Jadi nggak kuatir lagi deeh kalo buku saya dipinjem orang trus pas balik ada tanda lipetan di beberapa halaman huuuuu…. Paling sebel deh kalo ada yang memperlakukan buku dengan semena-mena gitu. Mbok ya cari apa kek buat nandain halamannya, nota bekas kah, kartu apa lah, bekas voucher kah, yang penting jangan dilipet. Minjem kok nggak dirawat !

Uh apalagi kalo sampe dicoret-coret waaaah nggak banget itu ! Menodai buku ! Bisa nangis Bombay kali…. (ah yang ini berlebihan). Tapi bener deh pas jaman SD dulu, pernah tuh perpustakaan kecil di rumah (isinya komik tintin, buku lima sekawan, seri nina, bobo, trio detektif, dll..) kena bocor hujan ! Buku-bukunya pada basah… dan yang gak terselamatkan itu pada lengket-lengket huhuhu… beneran deh itu pakai nangis :p

Lah tapi pernah juga kejadian itu, salah satu buku referensi kesayangan di perpustakaan kantor tuh, yg mustinya gak boleh keluar dr kantor, ada yang 'nekat' mbawa pulang. Dan tahu kah, pas besoknya bukunya mau saya pakai, temen saya itu ngasihin dalam keadaan basah pinggirannya, lecek, kucel ! Buku referensi gitu loh… Tinggal temen saya itu cengar-cengir dengan menyesal, “Hehehe sory Ran, tadi malem aku kehujanan ga bawa payung, jadi payungan pake tas. Lupa kalo ada buku ini.” Aaaaagrh… mau ngomong apa lagi coba… buku kesayangann saya itu… eh sampe udah merasa memiliki deh saking seringnya pake hehehe – Tapi kalo merasa memiliki kan ya jadi ikut merawat toh ya…

Satu hal yang bikin saya heran. Kok dari segi beratnya, buku-buku cetakan Indonesia kok lebih berat ya daripada buku luar. Maksudnya untuk buku yang tebelnya sama, misalnya novel2 John Grisham gitu, kan yg bahasa Inggris lebih ringan tu daripada yg edisi Indonesia, padahal ya tuebel juga. Jenis kertasnya kayaknya lebih ringan tapi ya lebih kuat. Kayak gitu kan jadi lebih enak dibawa-bawa. Yaaa para penerbit, tolong bikin buku yang ringan n enak dibawa-bawa yaaa :)