Well, sebenarnya nontonnya dah agak lama sih tapi saya teringat lagi film itu setelah mengikuti presentasi salah satu software simulasi awal minggu ini.
Stealth menceritakan tiga pilot pesawat super canggih milik Amerika Serikat yaitu Ben, Kara, dan Henry. Pesawat yang punya selimut anti radar itu begitu canggihnya dengan perangkat komputer yang aduhai, bisa menganalisis situasi peperangan, memberi saran mau pakai senjata apa, trus bisa terbang dengan kecepatan hipersonik.
Dan pilot yang menerbangkannya pun hanyalah pilot-pilot pilihan hasil seleksi super ketat! Hehehe…bagus juga, mereka bertiga adalah seorang lelaki kulit putih, seorang wanita, dan seorang lelaki kulit hitam, yeah...cukup adil :)
Anyway, ketenangan mereka terusik dengan hadirnya the fourth wing man, sebuah pesawat yang lebih dari super canggih, stealth yang bisa terbang tanpa awak. Pesawat itu bernama EDI. Yang kemudian menjadi perdebatan adalah kelayakan sebuah mesin dilengkapi otak komputer alias artificial intelligence untuk turut berperang. “Secanggih apapun, mesin tidak seperti manusia, yang memiliki pertimbangan moral ketika terjun dalam peperangan, “ begitu argumen Ben. Dan itu terjadi lah. Ketika ketiga pilot memutuskan membatalkan serangan ke Tajikistan (heran deh, kenapaaaa yaaa negara ini yang dipilih) yang diketahui memiliki hulu ledak nuklir, setelah mengetahui dampaknya adalah penyebran debu radioaktif di pemukiman petani yang tak bersalah, ehhh…EDI bersikukuh menyerang sehingga terjadi bencana. Meskipun di akhir film dikisahkan bahwa EDI bisa merasa menyesal…hmmm…still debatable. Yeah, movie…
Dan bagaimana dengan software-software simulasi proses yang canggih itu? Di dunia teknik kimia dan engineering pada umumnya, bertebaran software berbagai merk. Masing-masing punya keunggulan, yang tentu bias membuat terheran-heran karena kecepatannya berpikir. Sangat menghemat waktu ! Orang jadi punya harapan tinggi bahwa software bias melakukan apa saja, kalau sudah punya software itu semua masalah teratasi. Tidak perlu bikin program sendiri, oh senangnya!
Well, pastinya software itu diciptakan untuk mempermudah manusia, membantu menghitung, menguji performa peralatan yang ada, dan keluarlah result alias hasil simulasi. Tapi secanggih apapun software, tetaplah manusia yang mengoperasikannya yang harus menganalisis dan mengambil tindakan atas hasil simulasi itu. Oke deh, sudah dapat nih hasilnya simulasi Kolom Distilasi misalnya, dapat sekian jumlah tray, diameter sekian, aliran sekian, so what? Bisakah kolom distilasi itu berjalan sesuai keinginan jika dioperasikan?
Apa gunanya software simulasi canggih jika FUNDAMENTAL yang mendasari tiap peralatan dan proses didalamnya tidak dikuasai?
It’s all just tool, it’s just a gun, and still depends on ‘The man behind the Gun’….
Don’t stop learning, don’t stop reading my dear friend….
Friday, August 26, 2005
Tuesday, August 02, 2005
WAITING TIME
Belum lama ini sebuah pertanyaan datang pada saya dalam sebuah ‘survey’ yang diadakan almamater untuk mendata alumni, yaitu, “Berapa waiting time anda?” Wah segera saya bisa langsung jawab : TUJUH bulan :)
Waiting time di sini adalah waktu tunggu yang dihitung dari saat wisuda sampai pertama kali memperoleh pekerjaan (mendapat pekerjaan diartikan sebagai kerja di office, kerja di plant, kerja di field, or menjadi entrepreneur).
Tentu saja saya ingat betul, saat-saat yang pernah saya lalui dengan penuh perjuangan itu hehehe… Saat-saat yang cukup menguji kesabaran dan ketahanan mental. Konon, sepintar atau seaktif apa pun waktu kuliah, jika tidak cukup kuat ya bisa patah semangat juga loh menghadapi masa-masa menjadi pengangguran. Itu karena ada beberapa hal yang cukup ‘mengganggu’, misalnya :
- kenyataan yang harus diterima bahwa ‘Äku bukan mahasiswa lagi!!!’ Uwaaa…padahal jadi mahasiswa tuh kayaknya enak banget, punya jadwal yang jelas, banyak temen ngerumpi, ada yang saling dikeluhkan (misalnya ‘aduuuuh program reaktorku ga jadi-jadi neh’ hehehe…). Setelah sekian lama berada di zona aman, kini berada di zona yang serba tidak pasti!
- kenyataan bahwa sebagai “Sarjana’ menyandang harapan dari orang-orang di sekeliling kita : orang tua, saudara, tetangga, teman-teman, mantan dosen. Sepertinya mereka sangat ingin kita segera mengamalkan ilmu dan jadi orang yang berguna….*hmmmmfff*
- kenyataan bahwa status ‘sudah lulus’ akan segera mengundang pertanyaan berikutnya, “Wah, dah lulus yaaa? Sekarang kerja di mana??” Mau ngga mau, harus selalu siap mental dengan pertanyaan yang penuh perhatian ini. Soalnya kadang kan mood kita ngga sama. Kalo mood lagi ok, bisa dengan santai dijawab, “Wah, belum neh, doakan yaaa…” tapi kalau habis menerima ‘surat cinta’ penolakan atau habis menghadapi interview yang gagal, ughhh…bikin tambah down aja deh :p
Beruntung sekali, dalam masa penantian itu saya menemukan banyak hal yang cukup mencerahkan hari-hari saya.
Kala itu setelah wisuda, saya disibukkan dengan aktifitas persiapan pernikahan kakak, yang cukup banyak menyedot waktu-waktu awal sebagai pengangguran. Meski sering mengaku punya pekerjaan sebagai sopir pribadi, sebenarnya saat itu saya pura-pura mengeluh. Soalnya saya suka nyetir dan tak urung kegiatan itu saya rindukan juga sekarang :) Selama sibuk jadi wedding planner itu, tak ada satupun panggilan wawancara. Eh, baru seminggu kelar acara, alhamdulillah ada panggilan. Rejeki jadi panitia kali ya hehehe…
Yang tak boleh dilupakan adalah temen senasib alias sesama job seeker. Sohib-sohib saya kebetulan lulus bareng. Tapi juga jadi kenal temen dari berbagai angkatan loh. Lumayan, bisa saling menghibur, saling dukung kalau lolos tahap berikutnya, dan saling tukar info lowongan. Seru juga loh, rame-rame ikutan tes tertulis yang aduh susahnya, trus rame-rame juga mengejar kesempatan interview sampe ke ujung dunia (maksudnya sih pengalaman bertujuh interview ke daerah yang kita buta sama sekali hahaha…seru deh).
Sejak melepas status mahasiswa, saya jadi hobi ke warnet (di Jogja warnet ada di mana-mana deh!). Bisa tiap hari loh, jadi boros sih memang, but it’s worth lah. Saya mendapatkan dukungan dan penghiburan dari kawan dan kerabat yang nun jauh di sana. Yeah, saya menemukan bahwa membuka diri selalu lebih baik daripada mengisolasi diri karena takut ditanya ‘sudah kerja belum’ hehehe… Kalau ditanya begitu, trus kita jawab belum, nah… siapa tahu ditawarin kerjaan yang oke punya :p Minimal, selain silaturahmi, bisa jadi ada informasi lowongan pekerjaan deh (makasih yaaa mas dan mbak, yang udah bantu saya lewatin masa-masa itu. :D)
Suatu hari, saya nemu buku di lemari Bapak, buku yang ‘menyelamatkan saya’!!! “Seven Habits of Highly Effective People” karangan Stephen R. Covey, membuat saya rajin membuat rencana, mengejar tujuan dengan penuh strategi, …yeah, membuat saya berpikir lebih positif. (Yang belum pernah baca, harap segera baca!!) Ugh, sebel juga saya ngerasa telat banget baca buku itu, but better late than never deh.
Hidup Kita dikelilingi oleh Hal-hal yang sepenuhnya kita control atau kita pengaruhi, hal-hal yang setengah kita control atau dipengaruhi orang lain, dan hal-hal yang di luar control kita. Focus on the things you can control!
What a powerful words! Tambah semangat aja deh.
Tapi….uhuuu…kok, ga dapet-dapet kerja juga ya? Beberapa kali, saya gagal padahal dah tahap akhir. Jenis perusahaan yang saya incar, kok menolak saya di posisi itu yah, uh sebel…. But justru pertanyaan-pertanyaan di tahap akhir itu bikin saya mikir, apa saya salah jalur ya? Apalagi pas wawancara di salah satu perusahaan, pewawancaranya dengan lihai menggiring saya pada pertanyaan, “Kenapa kamu milih Teknik Kimia?” yaaa…dengan semangat, saya jelaskan blablabla…. Eh dia langsung menohok saya, “Lho, kalau gitu, kenapa kamu apply untuk posisi ini, yang ngga ada Teknik Kimia-nya sama sekali?” Hegh…telak banget! Saya masih berusaha ngeles sih, tapi pulang dari sana saya tak bisa berhenti mikirin pertanyaan tadi. Wah jangan-jangan saya memang salah jalur nih!!
Kira-kira dua minggu dari sana, saya ketemu ‘Guru’ saya dan cerita tentang karier sebagai job seeker yang gagal melulu, ehmm… Rupanya beliau punya pikiran yang hampir sama : salah jalur! “Kamu kan suka kegiatan engineering, kenapa tidak apply ke perusahaan engineering?” Dor! Saya merasa bego banget (upsss maapin kosa kata saya yak!). Pilihan itu selama ini ga saya seriusin, tapi semakin saya pikirkan, well, kelihatannya itu yang paling masuk akal. Saya gak bisa bohong (yeah, para interviewer sebelumnya kayaknya lebih dulu tau kalo saya bohong waktu ngaku bahwa saya amat sangat tertarik dengan kerjaan yang mereka tawarkan hehehe…namanya juga usaha). Mulai deh berburu lagi dengan semangat, tapi pindah haluan.
Well, saya menemukan bahwa saya suka banget sama “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”, bahwa Sang Maha Pengasih menuntun saya melalui suatu jalan menuju ke suatu tempat. Dia Tahu. Jalan orang menuju ke sana tidak sama, dan tempatnya pun berbeda-beda. Tapi Dia Tahu.
Sampai akhirnya saya mendarat dengan selamat di sini :) Alhamdulillah…. Waiting Time tiap orang berbeda-beda toh, ada yang 2 bulan, 4 bulan, 10 bulan, 1 tahun, lebih atau bahkan minus (maksudnya belum wisuda dah dapet kerja gitu). Tujuh bulan? Jakarta? Alhamdulillah deh…. :D
NB :
1. Dipersembahkan untuk para jobseeker di luar sana, Jangan Pernah Menyerah yaaa :)
2. Ini juga buat ngingetin diri sendiri
Waiting time di sini adalah waktu tunggu yang dihitung dari saat wisuda sampai pertama kali memperoleh pekerjaan (mendapat pekerjaan diartikan sebagai kerja di office, kerja di plant, kerja di field, or menjadi entrepreneur).
Tentu saja saya ingat betul, saat-saat yang pernah saya lalui dengan penuh perjuangan itu hehehe… Saat-saat yang cukup menguji kesabaran dan ketahanan mental. Konon, sepintar atau seaktif apa pun waktu kuliah, jika tidak cukup kuat ya bisa patah semangat juga loh menghadapi masa-masa menjadi pengangguran. Itu karena ada beberapa hal yang cukup ‘mengganggu’, misalnya :
- kenyataan yang harus diterima bahwa ‘Äku bukan mahasiswa lagi!!!’ Uwaaa…padahal jadi mahasiswa tuh kayaknya enak banget, punya jadwal yang jelas, banyak temen ngerumpi, ada yang saling dikeluhkan (misalnya ‘aduuuuh program reaktorku ga jadi-jadi neh’ hehehe…). Setelah sekian lama berada di zona aman, kini berada di zona yang serba tidak pasti!
- kenyataan bahwa sebagai “Sarjana’ menyandang harapan dari orang-orang di sekeliling kita : orang tua, saudara, tetangga, teman-teman, mantan dosen. Sepertinya mereka sangat ingin kita segera mengamalkan ilmu dan jadi orang yang berguna….*hmmmmfff*
- kenyataan bahwa status ‘sudah lulus’ akan segera mengundang pertanyaan berikutnya, “Wah, dah lulus yaaa? Sekarang kerja di mana??” Mau ngga mau, harus selalu siap mental dengan pertanyaan yang penuh perhatian ini. Soalnya kadang kan mood kita ngga sama. Kalo mood lagi ok, bisa dengan santai dijawab, “Wah, belum neh, doakan yaaa…” tapi kalau habis menerima ‘surat cinta’ penolakan atau habis menghadapi interview yang gagal, ughhh…bikin tambah down aja deh :p
Beruntung sekali, dalam masa penantian itu saya menemukan banyak hal yang cukup mencerahkan hari-hari saya.
Kala itu setelah wisuda, saya disibukkan dengan aktifitas persiapan pernikahan kakak, yang cukup banyak menyedot waktu-waktu awal sebagai pengangguran. Meski sering mengaku punya pekerjaan sebagai sopir pribadi, sebenarnya saat itu saya pura-pura mengeluh. Soalnya saya suka nyetir dan tak urung kegiatan itu saya rindukan juga sekarang :) Selama sibuk jadi wedding planner itu, tak ada satupun panggilan wawancara. Eh, baru seminggu kelar acara, alhamdulillah ada panggilan. Rejeki jadi panitia kali ya hehehe…
Yang tak boleh dilupakan adalah temen senasib alias sesama job seeker. Sohib-sohib saya kebetulan lulus bareng. Tapi juga jadi kenal temen dari berbagai angkatan loh. Lumayan, bisa saling menghibur, saling dukung kalau lolos tahap berikutnya, dan saling tukar info lowongan. Seru juga loh, rame-rame ikutan tes tertulis yang aduh susahnya, trus rame-rame juga mengejar kesempatan interview sampe ke ujung dunia (maksudnya sih pengalaman bertujuh interview ke daerah yang kita buta sama sekali hahaha…seru deh).
Sejak melepas status mahasiswa, saya jadi hobi ke warnet (di Jogja warnet ada di mana-mana deh!). Bisa tiap hari loh, jadi boros sih memang, but it’s worth lah. Saya mendapatkan dukungan dan penghiburan dari kawan dan kerabat yang nun jauh di sana. Yeah, saya menemukan bahwa membuka diri selalu lebih baik daripada mengisolasi diri karena takut ditanya ‘sudah kerja belum’ hehehe… Kalau ditanya begitu, trus kita jawab belum, nah… siapa tahu ditawarin kerjaan yang oke punya :p Minimal, selain silaturahmi, bisa jadi ada informasi lowongan pekerjaan deh (makasih yaaa mas dan mbak, yang udah bantu saya lewatin masa-masa itu. :D)
Suatu hari, saya nemu buku di lemari Bapak, buku yang ‘menyelamatkan saya’!!! “Seven Habits of Highly Effective People” karangan Stephen R. Covey, membuat saya rajin membuat rencana, mengejar tujuan dengan penuh strategi, …yeah, membuat saya berpikir lebih positif. (Yang belum pernah baca, harap segera baca!!) Ugh, sebel juga saya ngerasa telat banget baca buku itu, but better late than never deh.
Hidup Kita dikelilingi oleh Hal-hal yang sepenuhnya kita control atau kita pengaruhi, hal-hal yang setengah kita control atau dipengaruhi orang lain, dan hal-hal yang di luar control kita. Focus on the things you can control!
What a powerful words! Tambah semangat aja deh.
Tapi….uhuuu…kok, ga dapet-dapet kerja juga ya? Beberapa kali, saya gagal padahal dah tahap akhir. Jenis perusahaan yang saya incar, kok menolak saya di posisi itu yah, uh sebel…. But justru pertanyaan-pertanyaan di tahap akhir itu bikin saya mikir, apa saya salah jalur ya? Apalagi pas wawancara di salah satu perusahaan, pewawancaranya dengan lihai menggiring saya pada pertanyaan, “Kenapa kamu milih Teknik Kimia?” yaaa…dengan semangat, saya jelaskan blablabla…. Eh dia langsung menohok saya, “Lho, kalau gitu, kenapa kamu apply untuk posisi ini, yang ngga ada Teknik Kimia-nya sama sekali?” Hegh…telak banget! Saya masih berusaha ngeles sih, tapi pulang dari sana saya tak bisa berhenti mikirin pertanyaan tadi. Wah jangan-jangan saya memang salah jalur nih!!
Kira-kira dua minggu dari sana, saya ketemu ‘Guru’ saya dan cerita tentang karier sebagai job seeker yang gagal melulu, ehmm… Rupanya beliau punya pikiran yang hampir sama : salah jalur! “Kamu kan suka kegiatan engineering, kenapa tidak apply ke perusahaan engineering?” Dor! Saya merasa bego banget (upsss maapin kosa kata saya yak!). Pilihan itu selama ini ga saya seriusin, tapi semakin saya pikirkan, well, kelihatannya itu yang paling masuk akal. Saya gak bisa bohong (yeah, para interviewer sebelumnya kayaknya lebih dulu tau kalo saya bohong waktu ngaku bahwa saya amat sangat tertarik dengan kerjaan yang mereka tawarkan hehehe…namanya juga usaha). Mulai deh berburu lagi dengan semangat, tapi pindah haluan.
Well, saya menemukan bahwa saya suka banget sama “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”, bahwa Sang Maha Pengasih menuntun saya melalui suatu jalan menuju ke suatu tempat. Dia Tahu. Jalan orang menuju ke sana tidak sama, dan tempatnya pun berbeda-beda. Tapi Dia Tahu.
Sampai akhirnya saya mendarat dengan selamat di sini :) Alhamdulillah…. Waiting Time tiap orang berbeda-beda toh, ada yang 2 bulan, 4 bulan, 10 bulan, 1 tahun, lebih atau bahkan minus (maksudnya belum wisuda dah dapet kerja gitu). Tujuh bulan? Jakarta? Alhamdulillah deh…. :D
NB :
1. Dipersembahkan untuk para jobseeker di luar sana, Jangan Pernah Menyerah yaaa :)
2. Ini juga buat ngingetin diri sendiri
Wednesday, July 20, 2005
Kanza Bersepeda
Sejak dibelikan sepeda roda empat, Kanza punya permainan baru yaitu acara dorong-dorong sepeda. Soalnya dia belum bisa ngayuh, jadinya didorong, hehehe… Belum berani genjot dia, bisanya baru dua tiga kayuh, sisanya…dorong lagiiii…
Waktu kulihat Kanza tumben-tumbenan bergaya duduk di sadel sepeda, aku ledekin Kanza, “Gitu donk, sepedanya dinaikin, dikayuh, jangan didorong…”
Eh, malah Kanza turun dari sepeda, trus sepedanya didorong.
Jadi, aku komentarin lagi deh, ”Eh, sepedanya didorong aja, jangan dinaikin.”
Dan dengan spontan Kanza malah menghentikan acara dorong-dorongan itu, dan serta merta menaiki sepedanya. Hahahaha....

NB:
Buat Novie and Danto, demi foto inilah salah satu kenapa aku jadi melewatkan acara ultah Naura tersayang... next time dech, janji :)
Waktu kulihat Kanza tumben-tumbenan bergaya duduk di sadel sepeda, aku ledekin Kanza, “Gitu donk, sepedanya dinaikin, dikayuh, jangan didorong…”
Eh, malah Kanza turun dari sepeda, trus sepedanya didorong.
Jadi, aku komentarin lagi deh, ”Eh, sepedanya didorong aja, jangan dinaikin.”
Dan dengan spontan Kanza malah menghentikan acara dorong-dorongan itu, dan serta merta menaiki sepedanya. Hahahaha....
NB:
Buat Novie and Danto, demi foto inilah salah satu kenapa aku jadi melewatkan acara ultah Naura tersayang... next time dech, janji :)
Tuesday, July 12, 2005
Doktor Tertua…
Beliau adalah Bapak Dr. H. Ahmad Wasim Darwis, kami biasa memanggil beliau Pakdhe Wasim. Beliau baru saja wisuda Doktor pada tanggal 18 Juni 2005 yang lalu, setelah mempertahankan thesis beliau. Yang teristimewa adalah…usia beliau ketika wisuda, yaitu 79 tahun !!!
Dengar-dengar sih, rekor ini akan dicatat oleh MURI sebagai rekor Doktor Tertua di Indonesia. Well, terlepas dari MURI dan predikatnya, yang saya catat di sini adalah SEMANGAT beliau untuk terus belajar. Sebagai purnawirawan TNI, intelektual, mantan pengajar, sekaligus ulama, bagaimanapun semua terheran-heran mengetahui kabar bahwa Pakdhe mengambil sekolah Doktor.
“Pakdhe kan sudah sepuh (= tua, bahasa Jawa)”
“Buat apa lagi ya, kan sudah pensiun.”
”Pakai biaya sendiri lagi, ckckck...”
“Mbok ya sudah, santai saja melewati pensiun..”
Tapi, tentu saja, Pakdhe Wasim maju terus. Saya yakin, itu semua bukan demi karier atau pekerjaan. It’s beyond that. Itu demi ilmu pengetahuan, demi diri Beliau sendiri. Beliau melahap semua buku yang berhubungan dengan tesis beliau, mencari buku-buku yang diperlukan sampai ke ujung dunia sekalipun. Jangan tanya tentang perpustakaan pribadi beliau. Kamar saya saja kalah besar, dan koleksi buku saya barangkali tidak ada 5 %-nya.
Meski sidang beliau sempat tertunda-tunda, akhirnya kini secara resmi gelar Doktor telah tersandang dengan manis. Dan hawa manis itu menebar dalam semangat keluarga beliau pula : Budhe Wasim, kelima putra-putri, dan keenam cucu.
Selamat buat Pakdhe Wasim, Pakdhe akan selalu jadi penyemangat saya untuk terus belajar setiap hari, bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas ruang dan waktu, serta memupuk keyakinan dan semangat bahwa suatu hari nanti, saatnya akan tiba buat saya :)
Dengar-dengar sih, rekor ini akan dicatat oleh MURI sebagai rekor Doktor Tertua di Indonesia. Well, terlepas dari MURI dan predikatnya, yang saya catat di sini adalah SEMANGAT beliau untuk terus belajar. Sebagai purnawirawan TNI, intelektual, mantan pengajar, sekaligus ulama, bagaimanapun semua terheran-heran mengetahui kabar bahwa Pakdhe mengambil sekolah Doktor.
“Pakdhe kan sudah sepuh (= tua, bahasa Jawa)”
“Buat apa lagi ya, kan sudah pensiun.”
”Pakai biaya sendiri lagi, ckckck...”
“Mbok ya sudah, santai saja melewati pensiun..”
Tapi, tentu saja, Pakdhe Wasim maju terus. Saya yakin, itu semua bukan demi karier atau pekerjaan. It’s beyond that. Itu demi ilmu pengetahuan, demi diri Beliau sendiri. Beliau melahap semua buku yang berhubungan dengan tesis beliau, mencari buku-buku yang diperlukan sampai ke ujung dunia sekalipun. Jangan tanya tentang perpustakaan pribadi beliau. Kamar saya saja kalah besar, dan koleksi buku saya barangkali tidak ada 5 %-nya.
Meski sidang beliau sempat tertunda-tunda, akhirnya kini secara resmi gelar Doktor telah tersandang dengan manis. Dan hawa manis itu menebar dalam semangat keluarga beliau pula : Budhe Wasim, kelima putra-putri, dan keenam cucu.
Selamat buat Pakdhe Wasim, Pakdhe akan selalu jadi penyemangat saya untuk terus belajar setiap hari, bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas ruang dan waktu, serta memupuk keyakinan dan semangat bahwa suatu hari nanti, saatnya akan tiba buat saya :)
Monday, July 04, 2005
My Caca Called Me….
Handphone saya berbunyi…. Melihat nomor peneleponnya, segera saya angkat. Ternyata dari Uti-nya Caca, ”Mbak, ni ada yang nangis-nangis, katanya ’Telponin tante Rani, telponin tante Rani’....” kata beliau.
Telepon rupanya segera diangsurkan ke Caca karena kemudian terdengar suara anak manis sambil menangis...
Caca (C) : ”Tante Wani...”
Tante Rani (T) : ”Caca.... ada apa sayang, kenapa nangis?”
C : “Caca jatoh Tante, didoyong Tatak...” Mau ngga mau, saya tertawa. Lucu banget, ngadu toh ini.. Namanya lagi maen ama Kakaknya, pasti kadang pake berantem juga hehehe...
T : “Oh, Caca jatuh didorong Kakak?”
C : “Iyaaa...”
T : “Sakit ngga Ca?”
C : “Iya, takit Tante..”
T : ”Oh, sakit yaaa...kasiaan... Sebelah mana yang sakit?”
C : ”Tebeyah kiyi”
Hmmmmp... lucunya, padahal maksudku kan nanyain sakitnya di tangan apa di kaki apa di mana gitu :D
T : ”Oh, sebelah kiri. Di tangan apa di kaki Ca ?”
C : “Di kaki...”
T : “Tadi emang main apaan ama Kakak?”
C : ”Main macak-macakan...”
T : ”Duh seneng yaa main... dah sekarang main lagi yaa, jangan nangis lagi yaa..”
C : “Iyaa…”
T : “Dah ngga sakit kan? Caca jangan nangis lagi yaaa...”
C : ”Iya tante...”
T : ”Daaah Caca, mmmuaach...”
C : “Mmmmmuuach..”
T : “Assalamualaikum...”
C : “Kumcayam...”
Dan telepon pun ditutup.... Oh God, how I miss her so much :)
Telepon rupanya segera diangsurkan ke Caca karena kemudian terdengar suara anak manis sambil menangis...
Caca (C) : ”Tante Wani...”
Tante Rani (T) : ”Caca.... ada apa sayang, kenapa nangis?”
C : “Caca jatoh Tante, didoyong Tatak...” Mau ngga mau, saya tertawa. Lucu banget, ngadu toh ini.. Namanya lagi maen ama Kakaknya, pasti kadang pake berantem juga hehehe...
T : “Oh, Caca jatuh didorong Kakak?”
C : “Iyaaa...”
T : “Sakit ngga Ca?”
C : “Iya, takit Tante..”
T : ”Oh, sakit yaaa...kasiaan... Sebelah mana yang sakit?”
C : ”Tebeyah kiyi”
Hmmmmp... lucunya, padahal maksudku kan nanyain sakitnya di tangan apa di kaki apa di mana gitu :D
T : ”Oh, sebelah kiri. Di tangan apa di kaki Ca ?”
C : “Di kaki...”
T : “Tadi emang main apaan ama Kakak?”
C : ”Main macak-macakan...”
T : ”Duh seneng yaa main... dah sekarang main lagi yaa, jangan nangis lagi yaa..”
C : “Iyaa…”
T : “Dah ngga sakit kan? Caca jangan nangis lagi yaaa...”
C : ”Iya tante...”
T : ”Daaah Caca, mmmuaach...”
C : “Mmmmmuuach..”
T : “Assalamualaikum...”
C : “Kumcayam...”
Dan telepon pun ditutup.... Oh God, how I miss her so much :)
Monday, June 20, 2005
Trip Pembuktian Cipularang
Akhirnya tercapai juga keinginan saya mencoba jalan tol baru Cipularang alias Cikampek – Purwakarta – Padalarang. Setelah mendengar berbagai iming-iming kerabat, temen, dan kolega yang bercerita macam-macam, plus promosi yang katanya ‘Jakarta-Bandung 1.5 jam’, rasa penasaran saya tambah susah dicegah.
Eh, kebetulan…. Ada tugas kantor yang mengharuskan untuk pergi ke Kota Kembang, ditambah kondisi pekerjaan dan lain-lain yang mengijinkan kami hanya sehari meninggalkan markas, maka pilihan jatuh perjalanan pulng pergi dalam sehari, via tol Cipularang. Kebetulan sekali :D
So, di pagi yang cerah (setelah hujan semalaman), hari Rabu 15 Juni 2005 dimulailah perjalanan pembuktian yang mendebarkan ini (uh kayak apa aja seh :p).
- Kendaraan yang digunakan : Isuzu Phanter LV 2.5L DI
- Jumlah penumpang : 4 orang
- Bahan bakar : Biodiesel B10 atau Biodiesel 10 % Solar 90 % (tentang Biodiesel kapan-kapan saya ceritakan khusus deh, janji)
- Kecepatan rata-rata : 100 km/jam
- Pengemudi : berpengalaman (not me loh, jgn tuduh daku ngebut! hehe)
- Berangkat dari kantor di Jl. Thamrin : 8.04 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pondok Gede : 8.35 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pasteur : 9.59 WIB
- Kondisi lalu lintas : lancar
- Waktu tempuh Jakarta – Bandung : 1 jam 24 menit (klaim tersebut dihitung dari Pintu Tol Pondok gede samapi Pintu Tol Pasteur)
Nah, puas sudah saya membuktikan. Anyway, mungkin untuk jenis kendaraan, beban kendaraan, dan keberanian pengemudi hasilnya bisa beda ya (maksudnya kalau driver-nya pembalab angkanya bisa lain tuh heheh…)

Dan Perjalanan ini masih ada bonus lihat pemandangan sepanjang jalan tol. Memang nggak sehijau kalau lewat jalur Puncak atau Purwakarta sih, tapi lumayan lah. Teristimewa adalah jempatan Cipadu yang panjangnya 700 m melewati lembah nan hijau trus sebelah kirinya (kalau dari Jakarta) sejajar ama jalan kereta api, yang dengan suksesnya kupotret (dengan segala hormat deh buat Rouf, fotonya mirip yaa tapi yang ini kubuat sendiri loh hehe…).

Jalurnya juga cukup menantang karena ada tanjakan panjang banget (yang berarti turunan panjang dari arah sebaliknya!!) trus berkelok di sekitar Jatiluhur dan naik turun lagi. Nggak semenantang Puncak sih, but that’s fine lah. Mobil and driver tetep harus fit lah.
Lucu juga lihat di tepi jalan ada sebuah bukit kecil bertanam teh yang separonya gundul terkena proyek tol ini. Ada juga rasa khawatir lihat beberapa bagian dinding bukit yang terpotong jalan tol dan tampaknya bisa longsor kapan saja. Beberapa kali kata ‘woow’ ketika melintas jembatan-jembatan panjang dan mengamati pegunungan yang bentuknya unik banget nun di sana. Serta beberapa kata 'aduh’ sewaktu mobil melintasi jalan beton atau kadang aspal, yang ngga rata.
But anyway, alhamdulillah akhirnya kami sampai dengan selamat di tujuan di Bandung yaitu kampus ITB, tanpa tersesat meski keempatnya ngga tau jalan, tak seperti biasanya (eh, saya punya banyak cerita tentang tersesat masuk kota deh).
Buat saya pribadi, saya nilai sebagai prestasi yang lumayan mengingat ini baru 5th trip to Bandung, hahaha…
Tentu saja, dengan sedikit keluhan kurangnya penunjuk arah di kota ini dan banyaknya jalan serarah yang membingungkan, jadi musti terjebak satu jam di kota Bandung sebelum sukses masuk jalan tol lagi lewat Pintu Pasir Koja (nah, apa ngga kurang jauh tuh tersesatnya….)
CU again Bandung.....
Eh, kebetulan…. Ada tugas kantor yang mengharuskan untuk pergi ke Kota Kembang, ditambah kondisi pekerjaan dan lain-lain yang mengijinkan kami hanya sehari meninggalkan markas, maka pilihan jatuh perjalanan pulng pergi dalam sehari, via tol Cipularang. Kebetulan sekali :D
So, di pagi yang cerah (setelah hujan semalaman), hari Rabu 15 Juni 2005 dimulailah perjalanan pembuktian yang mendebarkan ini (uh kayak apa aja seh :p).
- Kendaraan yang digunakan : Isuzu Phanter LV 2.5L DI
- Jumlah penumpang : 4 orang
- Bahan bakar : Biodiesel B10 atau Biodiesel 10 % Solar 90 % (tentang Biodiesel kapan-kapan saya ceritakan khusus deh, janji)
- Kecepatan rata-rata : 100 km/jam
- Pengemudi : berpengalaman (not me loh, jgn tuduh daku ngebut! hehe)
- Berangkat dari kantor di Jl. Thamrin : 8.04 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pondok Gede : 8.35 WIB
- Tiba di Pintu Tol Pasteur : 9.59 WIB
- Kondisi lalu lintas : lancar
- Waktu tempuh Jakarta – Bandung : 1 jam 24 menit (klaim tersebut dihitung dari Pintu Tol Pondok gede samapi Pintu Tol Pasteur)
Nah, puas sudah saya membuktikan. Anyway, mungkin untuk jenis kendaraan, beban kendaraan, dan keberanian pengemudi hasilnya bisa beda ya (maksudnya kalau driver-nya pembalab angkanya bisa lain tuh heheh…)
Dan Perjalanan ini masih ada bonus lihat pemandangan sepanjang jalan tol. Memang nggak sehijau kalau lewat jalur Puncak atau Purwakarta sih, tapi lumayan lah. Teristimewa adalah jempatan Cipadu yang panjangnya 700 m melewati lembah nan hijau trus sebelah kirinya (kalau dari Jakarta) sejajar ama jalan kereta api, yang dengan suksesnya kupotret (dengan segala hormat deh buat Rouf, fotonya mirip yaa tapi yang ini kubuat sendiri loh hehe…).
Jalurnya juga cukup menantang karena ada tanjakan panjang banget (yang berarti turunan panjang dari arah sebaliknya!!) trus berkelok di sekitar Jatiluhur dan naik turun lagi. Nggak semenantang Puncak sih, but that’s fine lah. Mobil and driver tetep harus fit lah.
Lucu juga lihat di tepi jalan ada sebuah bukit kecil bertanam teh yang separonya gundul terkena proyek tol ini. Ada juga rasa khawatir lihat beberapa bagian dinding bukit yang terpotong jalan tol dan tampaknya bisa longsor kapan saja. Beberapa kali kata ‘woow’ ketika melintas jembatan-jembatan panjang dan mengamati pegunungan yang bentuknya unik banget nun di sana. Serta beberapa kata 'aduh’ sewaktu mobil melintasi jalan beton atau kadang aspal, yang ngga rata.
But anyway, alhamdulillah akhirnya kami sampai dengan selamat di tujuan di Bandung yaitu kampus ITB, tanpa tersesat meski keempatnya ngga tau jalan, tak seperti biasanya (eh, saya punya banyak cerita tentang tersesat masuk kota deh).
Buat saya pribadi, saya nilai sebagai prestasi yang lumayan mengingat ini baru 5th trip to Bandung, hahaha…
Tentu saja, dengan sedikit keluhan kurangnya penunjuk arah di kota ini dan banyaknya jalan serarah yang membingungkan, jadi musti terjebak satu jam di kota Bandung sebelum sukses masuk jalan tol lagi lewat Pintu Pasir Koja (nah, apa ngga kurang jauh tuh tersesatnya….)
CU again Bandung.....
Monday, May 30, 2005
"Percayalah Padaku....."
“Kenapa sih kamu tidak percaya sama aku? Kita kan udah kenal lama. Kamu seharusnya percaya padaku!!!” sergahnya dengan marah pada saya. Saya tertegun dan berpikir.
“Percaya itu tidak ada hubungannya dengan lama atau sebentar…,” kata saya.
Kepercayaan pada seseorang tidak bisa muncul begitu saja. Kepercayaan itu berasal dari penilaian kita pada seseorang, berdasarkan tindakan dan sikap seseorang menghadapi suatu hal. Tak perlu waktu lama...tapi oleh suatu hal yang tiba-tiba terjadi secara spontan pun, rasa percaya bisa tumbuh...
Di masa-masa kampanye pilkada seperti saat ini atau jaman pemilu yang lalu misalnya. Banyak calon yang menggelar program, menebarkan janji dan bujuk rayu, agar pemilihnya percaya dan menitipkan suaranya pada sang calon. Tapi bagaimana bias dipercaya, kalo sang calon berjanji memajukan pendidikan namun tak punya program nyata ataupun jejak-jejak tindakan dalam bidang pendidikan pada kehidupan sebelumnya ? Ngga ada track record-nya. Jadi, bisa dipercaya atau tidak…?
Sewaktu menonton salah satu episode “Penghuni Terakhir”di salah satu stasiun TV swasta, ada salah satu penghuni yang ditanya apa misinya, mau diapakan uang (dalam bentuk rumah) sebanyak itu nantinya. Jawabnya untuk kampanye anti bla bla bla. Lalu Helmi Yahya bertanya, selama ini apa saja yang suda anda lakukan untuk memberantas blab la bla itu, anda ikut organisasi atau kegiatan apa, atau telah melakukan apa? Jawab sang penghuni, tidak ada!
Tidak ada?!! Hampir saya tertawa terbahak. Dengan segala hormat, seolah misi yang dikatakannya itu, hanyalah sebagai penarik simpati pemirsa saja, tanpa ada track record, tidak dari hati?
Ketika hendak menitipkan kepercayaan, pastinya hati akan menilai bagaimana seseorang bertindak atau bersikap menghadapi sesuatu kasus. Ketika kita bisa meninggalkan handphone tergeletak di depannya tanpa khawatir akan dibaca-baca sms-sms atau apapun di dalamnya tanpa seijin kita, itu berarti kita percaya padanya karena kita tahu ia menghormati hak orang lain. Ketika ada yang memerlukan bantuan, ia tahu berinisiatif bertindak. Ketika berkata dan berjanji, itu tidak sekedar di ucapan. Menjaga amanah….
“....untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain, itu bukanlah dengan berkata ‘Percayalah padaku!’, tapi dengan MENJADI orang yang dapat dipercaya.....”
“Percaya itu tidak ada hubungannya dengan lama atau sebentar…,” kata saya.
Kepercayaan pada seseorang tidak bisa muncul begitu saja. Kepercayaan itu berasal dari penilaian kita pada seseorang, berdasarkan tindakan dan sikap seseorang menghadapi suatu hal. Tak perlu waktu lama...tapi oleh suatu hal yang tiba-tiba terjadi secara spontan pun, rasa percaya bisa tumbuh...
Di masa-masa kampanye pilkada seperti saat ini atau jaman pemilu yang lalu misalnya. Banyak calon yang menggelar program, menebarkan janji dan bujuk rayu, agar pemilihnya percaya dan menitipkan suaranya pada sang calon. Tapi bagaimana bias dipercaya, kalo sang calon berjanji memajukan pendidikan namun tak punya program nyata ataupun jejak-jejak tindakan dalam bidang pendidikan pada kehidupan sebelumnya ? Ngga ada track record-nya. Jadi, bisa dipercaya atau tidak…?
Sewaktu menonton salah satu episode “Penghuni Terakhir”di salah satu stasiun TV swasta, ada salah satu penghuni yang ditanya apa misinya, mau diapakan uang (dalam bentuk rumah) sebanyak itu nantinya. Jawabnya untuk kampanye anti bla bla bla. Lalu Helmi Yahya bertanya, selama ini apa saja yang suda anda lakukan untuk memberantas blab la bla itu, anda ikut organisasi atau kegiatan apa, atau telah melakukan apa? Jawab sang penghuni, tidak ada!
Tidak ada?!! Hampir saya tertawa terbahak. Dengan segala hormat, seolah misi yang dikatakannya itu, hanyalah sebagai penarik simpati pemirsa saja, tanpa ada track record, tidak dari hati?
Ketika hendak menitipkan kepercayaan, pastinya hati akan menilai bagaimana seseorang bertindak atau bersikap menghadapi sesuatu kasus. Ketika kita bisa meninggalkan handphone tergeletak di depannya tanpa khawatir akan dibaca-baca sms-sms atau apapun di dalamnya tanpa seijin kita, itu berarti kita percaya padanya karena kita tahu ia menghormati hak orang lain. Ketika ada yang memerlukan bantuan, ia tahu berinisiatif bertindak. Ketika berkata dan berjanji, itu tidak sekedar di ucapan. Menjaga amanah….
“....untuk mendapatkan kepercayaan dari orang lain, itu bukanlah dengan berkata ‘Percayalah padaku!’, tapi dengan MENJADI orang yang dapat dipercaya.....”
Subscribe to:
Posts (Atom)