Thursday, May 19, 2005

Wanita dan Pria

Waktu membuka-buka lagi koleksi foto tahun lalu, saya jadi teringat negeri Riau yang waktu itu saya kunjungi. Lumayan loh, hampir 3 bulan stay di sekitar Pekanbaru. Awalnya ngga kebayang, malah rada takut. Maklum aja ya, belum pernah ke lapangan. Real site, real engineering, hehehe... Dunia yang maskulin? Barangkali. Yang jelas, banyak yang berkomentar mendengar keberangkatanku, “Duh kok mau sih…?” atau ”Emang ngga ada yang lain yang bisa pergi, yang cowok?” atau pun, ”Riau kan panas, ngga takut item?”

Tapi.... saat itu saya merasa harus pergi. This is a step i have to take, a journey to overcome. Kalo tidak pergi, saya tidak akan bisa tau rasanya, dan mungkin akan penasaran selamanya. Tentu saja seraya tak lupa berdoa dan berkeyakinan bahwa apa yang saya lakukan itu ada manfaatnya. (Dan lagi, ada juga teman-teman saya, cewek juga, yang field engineer banget di salah satu Oil Company. Tempat kerjanya tak lain tak bukan ya di tengah hutan belantara hehehe… (piss girl!!). They can survive with that…)

Dan tahukah....di tengah dunia yang maskulin itu, saya justru merasa wanita.

Saya dituntut bekerja sebaik pria, dan saya memang minta tidak dibedakan. Saya berusaha menjadi seorang profesional, yang mengerti apa yang saya kerjakan. Nyatanya (menurut saya) saya bisa berkerja sekeras mereka, saya bisa berpikir logis, saya bisa menyetir dengan baik (bahkan mungkin lebih baik dari beberapa di antara mereka), saya bisa memanjat tower 15 meter itu (yang bahkan ada dari mereka yang belum pernah memanjatnya :p), saya bisa membaca peta dan bernavigasi, saya tidak takut kulit jadi item....pendeknya saya bisa kok.

Tapi di tengah segala kebisaan itu, justru dengan sendirinya saya menerima bahwa saya wanita dengan berbagai hal yang ‘saya tidak bisa’ dan ‘saya berbeda dari mereka’. Saya tidak kuat mengangkat jerigen 20 liter penuh air, saya tidak kuat memutar baut yang gede itu dan memang tidak berminat mencobanya, saya tidak bisa mandi di kali ketika waktu itu sumur kering, saya tidak akan dilepas pergi malam-malam sendirian, saya dipaksa pindah ke bangku belakang ketika melintasi salah satu ruas Lintas Timur Sumatera yang rawan, saya tidak pernah ditinggal sendiri di belakang ketika jogging lewat kebun kelapa, saya mengalami datang bulan....

Dan toh, mereka pun tidak keberatan mencuci piring, memasak indomie, dan bersih-bersih rumah. Walau kadang masih berantakan juga :p

Wanita memang sejajar pria, dan pria tidak lantas lebih tinggi dari wanita. Wanita dan pria sama pentingnya, tapi bisa memiliki orientasi berbeda. Wanita dan pria diciptakan dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing. Wanita dan pria.... saling mengisi....

Setiap orang, pria ataupun wanita, memiliki fungsi di dunia ini sesuai dengan bakat dan keahliannya....
Note :
.....saya pengen deh lebih sering meng-up date lembar-lembar ini,
melengkapi dgn asesoris biar lebih friendly...
uh, belum sempet .. mudah2an esok hari bisa lebih sering deh...
iri banget sama temen2 yang hampir tiap hari nulis di blog, hehehe...

Wednesday, May 04, 2005

Big Plan Today....

".....We can never have perfect information or tools but…
We should OPTIMIZE WHAT WE CAN TODAY and recognize that IT WILL CHANGE IN THE FUTURE, as our ASSUMPTIONS NEED ADJUSTING according to the change of information…."

from somewhere... (upss sorry i forgot :p), actually this is 'engineering words' but i think this can work in life

Thursday, April 28, 2005

Bye Bye Bajaj Bajuri

Bukan, bukan tentang isu bahwa Bajaj Bajuri akan diganti menjadi Salon Oneng. Sama sekali bukan!! Tapi tentang keponakan saya, Kanza, yang dengan sukses telah berhenti menjadi penggemar Bajaj Bajuri.

Image hosted by Photobucket.com

Sebenarnya sinetron ini sangatlah lucu dan menghibur. Siapa pun saya yakin pernah nonton dan tertawa menyambut adegan para pemain yang mengisahkan keluarga Bajuri yang sopir Bajaj di tengah lingkungan bertetangga di kampung. Ceritanya yang segar dan membumi terasa akrab dan menggelitik. Ini dia kehidupan nyata, dengan setting yang sungguh bebeda dengan berbagai sinetron yang hanya menawarkan kemewahan, mimpi, dan banyak adegan orang-orang bertengkar.

Tapi….sinetron Bajaj Bajuri yang banyak penggemar itu tak bisa dicegah untuk tidak ditonton juga oleh anak-anak, termasuk bocah 2,5 tahun bernama Kanza ini. Dengan jam tayang yang cukup sore (18.30) memungkinkan mereka untuk turut menonton karena belum tidur. Jadi jangan heran kalau 5 bulan lalu dia sudah hafal para tokoh utama sinetron ini : Oneng, Emak, Bajuri, Mpok Ndun, Ucup….

Awalnya benar-benar terlihat lucu melihat Kanza langsung berjoget begitu mendengar theme song Bajaj Bajuri yang memang atraktif itu. Juga sangat lucu mendengar kefasihannya menyebut nama-nama tadi.

Juga masih lucu pertama kali mengetahui Kanza ribut minta pulang ketika ikut bapaknya sholat maghrib di musholla, gara-gara pengin segera nonton Bajuri! Yaaa…memang sih, sinetron ini diputar terlalu dekat waktu maghrib. Tapi ketika aksinya minta pulang itu makin sering, duh…jadi terasa gimanaaa gitu. Apalagi, sebagai bocah yang baru seneng-senengnya menirukan kata-kata orang, beberapa potongan dialog pun turut terekam ingatannya! Masih mending kalo kata-kata bagus yang ditirukannya,… lha ini, yang terekam termasuk ketika Emak ngomelin Bajuri, atau sebutan Bajuri kepada Oneng yaitu o..n, aduuuuh….

That’s it!!! That’s enough!!! Sudah cukup, hehehe… dengan demikian, Bapak dan Ibunya mengkarantina Kanza dari tontonan Bajaj Bajuri yang menawan itu demi menyelamatkan koleksi kosakata Kanza, setidaknya barangkali sampai Kanza bisa membedakan kata-kata yang mana yang baik untuk diucapkan. Konsekuensinya, jangan harap bisa nonton Bajaj Bajuri kalo lagi main ke rumah Kanza, kita-kita yang dewasa harap mengalah, kecualiiiiii kalau Kanza sudah tidur :)

Thursday, April 07, 2005

Quitter never Wins, Winner never Quits



Itu adalah motto kami yang terbaru, yang diresmikan pada acara EC Family Gathering 2005, 2-3 April 2005 yang lalu. Maksudnya kurang lebih adalah supaya kita tetap semangat dan pantang menyerah untuk menjadi pemenang. Sampai kapan motto itu akan dipakai? Yaaa mungkin sampai ada family gathering lagi *hehehe tahun depan ke mana yaaaa*
Duh, kemarin asyik juga loh, biarpun badan sempet pegel-pegel (maklum aja, termasuk jadi seksi repot ngurusin acara :P) tapi tak terlupakan. Penuh canda tawa dan kebersamaan. Mulai dari persiapan acara, perjalanan naik bis bareng-bareng, terus wisata di Taman Safari (akhirnya tercapai cita-cita saya untuk berfoto sama harimau…duuuh lucu buanget harimaunya), sampai acaranya di Hotel Lembah Hijau Ciloto.

Image hosted by Photobucket.com


Yang asyik banget adalah acara hiking rame-rame ke hutan pinus (sebenarnya Cuma di pinggir hutan sih, soalnya kalau jauh-jauh kasihan ada anak-anak yang ikut, ntar kecapean). Segar dan sehattt, jarang-jarang bias olah raga begitu.
Dan banyak keponakan alias anak teman-teman sekantor, lucu-lucu dan menggemaskan. Favorit saya tahun ini adalah Gusman dan Fathir, uh dua-duanya lucu buanget!!!
Ngomong-ngomong ini adalah acara Family Gathering ketiga yang saya ikuti, dan ternyata tahun ini saat perkenalan keluarga saya masih berdiri di deretan para bujangan hehehe… sampai rasanya hampir kebal saya dengar teriakan teman-teman, “Sudah tiga tahun? Masih bujangan?” hahaha…makasih deh bapak-bapak ibu-ibu atas doanya (biarpun terkadang keterlaluan, tapi itu semua saya anggap doa deeeh hehe) …mudah-mudahan tahun depan sudah berubah… amien amien amien…


Quitter never Wins, Winner never Quits…........................... Saya, ngga mau menyerah kok :)

Thursday, March 31, 2005

(Tak) Berbalas SMS

Sebuah nada terdengar dari ponsel saya. Oh, ada sms rupanya. Saya meraih HP dan membuka SMS yang baru masuk tadi, dari sebuah nomor yang rupanya tidak ada di address book saya.
“Ran, si D…. lg di UP ga? Soalnya aku lg di UP nih,” begitu isi SMS-nya.
Waduh, dari siapa nih yaa? Kalo dilihat dari nama, kota yang disebut, dan nada smsnya yang akrab sih saya kira dia salah satu teman lama. Berhubung engga tau siapa, maka saya tanya si pengirim SMS, “Maap, ni sapa yaaa…”
Tanpa disangka dia membalas, “Huh, sombong lu, kn dl dah prnh kukasih tau.”
Haah?? Sapa ni, tau-tau ngatain ‘sombong’, pikir saya. Tapi saya jawab juga sih
“Masak sih dh prnah kasih? Kok ga ada y? Maap deh kl aku lupa, tp ni sapa yaa…”
“Huh, emang dasar sombong, kl blm prnh kukasih tau y kukasih tau. Tp km dh prnh kuksh tau jd ga kan kuksh tau lagi!” itu balasannya.
Waaah! Galak sekali (dan bagi saya, kasar sekali :p). Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Heran, padahal saya sudah tanya baik-baik, pakai kata-kata yang sopan, kok ditanggapi semacam itu yaaa… hmmm… Di jaman ini, yang namanya ber-SMS memang sudah bisa dikatakan hal yang umum. HP relatif terjangkau harganya, operatorpun macam-macam bisa pilih sesuai selera. Tapi yang namanya ‘etika’ atau katakanlah ‘permakluman’ dalam ber-sms, wah sepertinya tidak semua sepaham yaa.

Dalam hampir tiga tahun bergaul dengan SMS, rasanya sudah macam-macam hal yang saya alami atau saya dengar dialami teman, baik menyenangkan maupun menjengkelkan.
Mulai dari SMS penyemangat hari dan penyejuk hati, sampai SMS dari orang tak dikenal yang ternyata dapat nomer HP saya secara ‘illegal’ (pelajaran SaTu : jangan sembarangan kasih nomer HP ke orang lain tanpa ijin yang punya, daripada disalahgunakan cuma buat iseng ngabis-abisin pulsa wakakakak…). Mulai dari kabar gembira kelahiran ponakan sampai kejutan di pagi hari untuk segera rapat di tempat yang jauhnya tak kurang dari dua jam perjalanan.

Pernah saya diomel-omelin seseorang gara-gara lambat membalas SMS-nya. Yang dia tidak tahu adalah sedang apa saya saat itu : tangan saya sedang berlepotan minyak karena kebetulan sedang kerja di Lab. Mana mungkin saya pegang HP, huuh bisa lumer deh, or kena bahan kimia! Dasar ga sabaran lu, hehehe… Atau disms, lalu dimiskol-miskol berkali-kali, padahal tahu tidak sih, saya lagi ngetik sms balasannya, jadi keputus-putus deh… Lain lagi, disms, tapi lagi ga bisa bales karena…pulsa abisssss! Nah! Lain waktu, baterai habis, hahaha… Ataupun, waktu SMS masuk sedang meeting penting, jadi ga bisa langsung balas (pelajaran DuA : sabar dooonk, kita tidak tahu yang di seberang itu keadaannya gimana. Kalo ga sabar, yaaa…ditelpon aja, hehehe). Harap maklum, itu kata kuncinya.

Suatu kali, ketika sebuah gempa dahsyat baru mengguncang bumi Aceh, saya teringat seorang sahabat yang saat itu setahu saya kadang ngejob di sana. Maka daripada kepikiran, saya sms dia, “Habis gempa d Aceh gmn? gpp kn? Smua baik2 aja? Km lg dmn?”
Selang beberapa waktu tibalah balasannya, “Alhamd baik2 aja.”
Hmghhh…saya menahan tawa. Tahukah anda, teman saya tercinta ini kami kenal sebagai orang yang paling males ngetik SMS (bahkan pernah dia bilang, mending miskol aja ntar kutelpon hehehe). Jadi, meski saya mengharapkan jawaban yang lebih rinci tentang kabarnya, tak urung saya bersyukur dia baik-baik saja, and tentu saja, saya menghargai betul usahanya mengetik dengan susah payah tiga kata yang berharga tadi, hahaha….

Lain peristiwa, ketika janjian dengan seorang sahabat, saya SMS dia untuk memastikan jadi atau tidak acara jalan-jalan besok, “Gmn, bsk jd ga?” ketika muncul balasannya, “Jadi” wah, saya mengerutkan kening juga. Lho, ada apa nih, ga biasanya teman ngobrol saya ini kasih jawaban yang super pendek begitu. Betul-betul anomali. Tapi, walau masih bertanya-tanya, saya biarkan dulu sih, ngga terlalu saya pikirkan. Malamnya dia telpon dan cerita bahwa tadi siang pekerjaannya blablabla…sibuk sekali dan penuh tekanan, sambil menekankan ‘pokoknya acara besok jadi loh!’. Saya tersenyum dan membatin, “Oh itu toh penyebab SMS super singkat tadi.”

Kali lain saya kirim SMS ke seorang teman, “Aku kirim imel, tlg buka ya, pntg”. Tak lama muncul balasan, “Ini siapa ya, sorry dab”, yang segera kujawab, “Ini Rani loh..” Jawabnya, “Wah sori Ran, HPku model lama sih jd kdg ada nmr2 yg trpksa dhapus hehe…” Nah, ini baru berbalas SMS yang penuh tenggang rasa dan toleransi, hahaha…

Pernah pula, lagi tidur nyenyak, saya dikagetkan nada SMS dari HP saya. Wah, siapa nih malam-malam? Mana kepala saya lagi pusing banget. Saya baca SMS itu lalu kembali tidur. Yang jelas, SMS yang dikirim tengah malam begitu tak mungkin mengharapkan balasan :p

Pada suatu hari menjelang libur panjang, saya mengirim SMS pada beberapa kawan, “Hai, longweekn mudik ga?”
Si A yang pertama menjawab, “Mudik donk, tapi ga ke yk hehe..”.
Satu lagi berbalas dari Si B, “G mudik ni, bosku mudik aku jaga kntr :(”
Yang lain menyahut, “Aku dh d yk lho!”
“Mau yg bln dpn aja dh!” balasan si D muncul.
Tapi dari satu makhluk tak jua berbalas. Saya kira tak kan dibalas, sampai muncullah jawabannya sore hari, “Mudik ntar Jumat pagi”.
Saya tersenyum. Terima kasih buat pembuat teknologi SMS yang bisa mendekatkan kami-kami yang terpisah ratusan kilometer.

*Disertai segala permohonan maaf karena ada kata-kata yang tertulis dalam singkatan-singkatan ‘bahasa sms’ :)

Wednesday, March 09, 2005

Belajar Nyopir Mobil

Ada sebuah program besar yang saya anggap belum sukses, yaitu mengajari adik saya menyetir mobil. Heheh.. boleh tertawa, tapi coba deh, pernah punya pengalaman ngga sih menjadi instruktur belajar nyetir? Susah susah gampang !

Tugas ini sebenarnya berawal dari kepindahan saya dari kota kelahiran Yogyakarta tercinta. Jabatan ’sopir pribadi’ buat Bapak Ibu terpaksa saya lepas, dengan konsekuensi…cari penggantinya toh. Kandidatnya yaa...siapa lagi kalau bukan 'urutan berikutnya' : Vierta (itu namanya). Hmmm... berarti sudah hampir 3 tahun loh program ini tersampir di pundak saya, tapi kok belum berhasil juga ya membuat adik saya itu jago nyetir.

Tapiiii...biar sudah dimodali dengan kursus nyetir (maksudnya biar lebih Pe-De gitu), trus udah dibuatin SIM A, eh...sampai sekarang masih belum berani juga bawa mobil sendiri. Sebenarnya ada dua hal soal berani tidaknya bawa mobil : yang pertama ada keberanian dari yang nyetir alias Pe-De apa engga bawa mobil, yang kedua ada kepercayaan dari yang punya mobil. Nah, kalo tidak pernah dilatih nyetir, yang punya mobil kan jadi kuatir kenapa-napa di jalan. Jadi suka dilarang-larang bawa mobil. Alhasil, yaaa... ngga pinter-pinter deh nyetirnya.

Salah satu solusinya, tampaknya saya harus lebih sering pulang kampung untuk jadi instruktur, hehehe... Soalnya adik saya itu masih belum berani latihan sendiri, kudu ditemani. Ditemani aja masih suka lupa membedakan gas ama rem, kan gawat tuh. Jadi, tiap pulang kampung, kalo ada kesempatan, sudah jatah saya nemenin dia bawa mobil. Terakhir kali, Vierta udah saya nyatakan lulus bawa mobil di traffic light, ngga lagi mati mesin ataupun panik. Lewat polisi tidur ngga nyendal. Keluar masuk garasi udah lancar. Yang belum bisa : parkir dan nyebrang jalan. Aduuh, padahal ini komponen penting kan. Masak mau jalaaan.. terus, ngga berhenti; beloknya ke kiriiiii... mlulu, aduuuh...

”Ngebut itu paling gampang!” itu selalu saya bilang ke ’murid’ saya ini. Tentu saja, asal tahu yang mana gas, udah bisa ngebut. Itu sama sekali tidak menunjukkan kelihaian seseorang dalam menyetir. (Apalagi kalau ugal-ugalan, uh...kliatan banget deh baru bisanya, hehehe...) ”Yang susah itu, kamu bisa jalan pelan-pelan, misalnya baru ngantri di rel kereta, tapi mesin kamu ngga mati dan kamu ngga nabrak mobil di depanmu!”
”Oooo... gitu ya,” katanya sambil manggut-manggut.

Siapa ’guru’ nyetir saya? Terutama adalah Bapak saya. Wuih, kalo lagi ngajari, aduh banyak sekali aturannya dan uh, galak! Hehehe… Tapi, semua ‘undang-undang dasar’ yang dibuat Bapak saya itu, saya akui memang betul dan membangun kebiasaan untuk berkendara dengan aman. Di antaranya ini :

  • Pastikan duduk nyaman, majukan kursi supaya letak pedal gas, kopling dan rem terjangkau, dan betulkan posisi spion pas dengan kita
  • Kalau mau belok atau nyalip, harus pasang lampu sen sejak minimal 20 m sebelumnya
  • Wajib kontrol kendaraan di belakang dengan melihat spion tiap 30 detik (kira-kira), terlebih lagi jika mau belok/nyalip sangat wajib lihat spion
  • Bayangkan letak roda dan ukuran mobil, sehingga terbangun ’feeling’ ketika parkir, menyalip, ataupun melalui jalan sempit.

Nah, kalau jaman sekarang, ditambah aturan wajib pakai sabuk pengaman. Aturan dasar ini memang harus jadi kebiasaan, tapi soal ’feeling’, itu berhubungan dengan sering tidaknya pegang setir. Makin sering, makin sip feelingnya.

Oke, saya punya POP QUIZ (ini kuis dari kakak ipar saya loh). ”Sopir yang baik adalah sopir yang jarang menggunakan rem. Kenapa begitu??”
Nah, nah, pertanyaan sederhana tetapi....
”Untuk kenyamanan penumpang donk!” jawab saya seketika. Eh, saya ini sangat memperhatikan penumpang saya loh, kalo penumpang bisa tidur nyenyak ketika saya nyetir berarti dia percaya 100% pada kemampuan menyetir saya hehehe...
”Itu bukan alasan utama,” katanya geleng-geleng kepala.
”Hemat kanvas rem!” seru saya.
”Iya betul, tapi itu bukan terpenting,” jawabnya sambil semyum-senyum. Wah apa ya ?
“Udah? Nyerah?”
“Iya deh! Apa jawabnya?”
“Sopir yang jarang mengerem, menunjukkan dia pandai menjaga jarak aman. Dia antisipatif terhadap kendaraan di sekitarnya. Tidak perlu mengerem, kurangi gas saja. Begitu loh!”
Hmmm...bener juga yaa... Jangan seperti sopir angkot, yang suka mengerem mendadak itu, hehehe...

Drive savely everybody....someone is waiting for you at home....

Thursday, March 03, 2005

Tisu dan Hexos

“Permen, tisu… permennya mbak…,” begitu pedagang asongan menawarkan bawaannya. Sebenarnya tidak cuma ada permen ataupun tisu, masih banyak lagi. Ada rokok, geretan, cemilan. Umumnya mereka membawa barang dagangan dalam kotak bertali (untuk menggantungkannya di leher) yang dirancang untuk bisa membawa permen dan konco-konconya dengan rapi (kalau rapi kan yang beli jadi enak milihnya), tapi tidak merepotkan untuk dibawa-bawa naik turun bis. Biasanya mereka bikin sendiri kreasi kotak tersebut, menyesuaikan ukuran tubuh mereka. Jangan sampai orangnya kecil tapi bawaannya kotak yang besar.
Salah satu padagang asongan di daerah Ciputat, mengaku sudah 2 tahun lebih menekuni profesi ini. Sehari lumayan lah, tisu jualannya bisa habis minimal 5 bungkus. Ditambah permen dan jualannya yang lain. Jam kerjanya dari pagi sampai malam, menemani mobilitas warga yang hilir mudik dalam kemacetan di Jl. Dewi Sartika, Ciputat, yang memang sudah kondang banget macetnya. Bisa dibilang, dia hidup dari bisnis kemacetan hehehe... pedagang asongan umumnya memang muncul di kawasan yang banyak terjadi perhentian kendaraan. Lihat saja di sekitar lampu merah, halte bis, bahkan pintu tol, dan tentu saja : kawasan rawan macet macam Pasar Ciputat itu. Larislah berbagai jajanan menemani para pengemudi dan penumpangnya, lumayan buat ngurangi sebel, bisa makan permen.
”Mau beli hexos, mbak?” tanyanya. Ih, tau aja sih permen yang sering saya beli ?
”Ah, kebetulan pak, tisu saya habis, beli satu dong.”