Hari Jumat lalu saya berkesempatan ngeliat First Hybrid Car in Indonesia. Tepatnya pada acara kunjungan ke pabrik PT Honda Prospect Motor di Karawang. Dalam acara itu PT HPM menyerahkan mobil Honda Civic Hybrid, The First Hybrid Car in Indonesia kepada BPPT, dalam rangka pengujian dan alih teknologi.
By the way, supaya gak dikira promosi, saya mo cerita hal teknis aja :p
Istilah Hybrid menurut ensiklopedia adalah gabungan atau persilangan. Masih ingat kan kelapa hibrida? Kelapa hasil persilangan, artinya punya induk dari jenis berbeda. Nah yang dimaksud hybrid car di sini adalah mobil yang digerakkan oleh dua penggerak yaitu engine dan motor yang dapat bekerja bergantian ataupun saling mendukung. Umumnya system Hybrid digunakan untuk mesin bensin (internal combustion engine), meskipun ada juga pabrikan mobil diesel yang menggunakan system ini. Gabungan dua penggerak ini bertujuan untuk mengoptimumkan penggunaan bahan bakar, yang pada akhirnya menghemat BBM. Dengan system ini, diklaim bisa menghemat sehingga 1 liter/30 km. Waah fantastis kan? Meskipun penghematan itu juga tergantung pada gaya nyetir juga sih....
Cara kerja mesin semacam ini pada umumnya adalah dengan menyerap energi yang berlebih saat engine mengalami deselerasi, misalnya mengerem. Energi yang berlebih tadi diserap oleh baterai. Atau bisa juga ketika mesin dalam keadaan idle, motor kemudian berfungsi sebagai generator listrik, yang kemudian menyimpannya dalam baterai.
Lalu kapan baterainya bekerja menggerakkan motor ? Baterai bekerja jika engine memerlukan ’bantuan’ misalnya saat akselerasi, jadi bisa lebih berenergi. Mobil jenis tertentu (Toyota Prius misalnya) bahkan bisa bergantian secara otomatis kapan pakai engine, kapan pakai baterai, kapan pakai dua-duanya. Waktu pakai baterai, tentu saja, tanpa emisi dan tanpa suara.
Di akhir acara, ada sesi test drive. Kebetulan di belakang areal pabrik ada arena Road Test sepanjang 1.6 km yg dilengkapi belokan plus tikungan tajem. Saya ikutan juga donk (kebetulan pas bapak-bapak pada sholat Jumat, mobilnya gak ada yang pakai tuh), tapi hanya sebagai penumpang soalnya mobilnya matic (saya agak ngeri nyopir matic, daripada kenapa-kenapa itu mobil mendingan jadi penumpang aja deeeh hehehe). Yang nyetir waktu saya naik adalah yang terhormat ibu Ka. Pusdiklat. Waah jago nih si Ibu, dan sempat ngebut juga mpe 130-an km/jam (di track yang lurus tentunya). Dan waktu nikung (otomatis ngerem lah yaw, gak 130 km/jam lagi), secara otomatis pada panel terlihat bahwa terjadi peyimpanan energi.
Lalu berapa harganya? Itu salah satu pertanyaan penting yang diajukan. Menurut pihak PT HPM, Honda Civic Hybrid ini harganya sekitar Rp 500 juta-an dan belum dipasarkan di Indonesia. Baru ada satu inilah mobil Hybrid mereka di Indonesia. Dan lagi, mobil itulah jenis hybrid pertama yang mendarat di Indonesia.
Di Jepang sendiri kabarnya sudah banyak mobil Hybrid di jalan-jalan, jadi ada berbagai merek. Begitu juga di Eropa dan Amerika. Tinggal pilih deh, ada Toyota Prius (Cameron Diaz katanya pakai ini loh), Ford Escape Hybrid, Mazda Demio, etc. etc. So, kita tunggu saja kapan mobil hemat energi dan ramah lingkungan begini bisa dipasarkan di Indonesia, dengan harga murah tentunya, hehehe....
NB : too bad, hari jumat lalu saya lupa bawa kamera, mobilnya warna putih, ntar fotonya menyusul dech...
Tuesday, February 14, 2006
Friday, January 27, 2006
Mistake
Menemukan bahwa diri kita melakukan kesalahan bukanlah hal yang menyenangkan.
Terkadang kesalahan itu kelihatan seperti tidak masuk akal : bagaimana mungkin saya telah melakukan hal ‘sebodoh’ itu ??
Dan sebodoh dan sesepele apapun kesalahan itu, saya merasa sudah selayaknya untuk mengakuinya untuk mencegah ‘kerusakan’ lebih lanjut. Maka sesudah kami mendiskusikan hal tersebut, saya terus terang berkata, “I’m so sorry bos, I feel so stupid,” kata saya sambil tersenyum kecut.
“It’s ok. It’s my responsibility,” he said.
Tapi kata-katanya tidak menenangkan hati saya. Saya tetap merasa bertanggung jawab. Well, I don’t give my self much tolerance for any mistakes. Sedih rasanya…
Then someone said : menemukan kesalahan kata lainnya adalah menemukan petunjuk untuk merevisi atau melakukan update untuk suatu kasus :)
Hmmm…saya pikir itu benar. Kesalahan hanya akan menjadi kesalahan, apabila ditanggapi dengan berkeluh kesah, saling menyalahkan, dan tidak ada action untuk mencegah adanya kesalahan yang serupa terjadi lagi pada anggota tim. Kesalahan itu menjadi berguna ketika dengan terbuka dibicarakan, dicari apa penyebabnya, kemudian dicari jalan keluarnya. Kesalahan sebagai informasi untuk perbaikan.
Maka secara pribadi, saya mengidentifikasi penyebabnya, mungkin karena :
- tidak fokus : terlalu banyak hal dalam satu waktu ?
- tidak teliti : terburu-buru, dikejar tenggat waktu ?
- tidak prosedural : tidak melakukan cek dan re-cek ?
Hmmm... kalau itu penyebabnya, setidaknya saya tahu bagaimana mengantisipasinya. Terlebih setelah didiskusikan, alhamdulillah tetap ada jalan keluarnya.
Hmmm... then I can forgive my self, and focus on the next step. :)
Terkadang kesalahan itu kelihatan seperti tidak masuk akal : bagaimana mungkin saya telah melakukan hal ‘sebodoh’ itu ??
Dan sebodoh dan sesepele apapun kesalahan itu, saya merasa sudah selayaknya untuk mengakuinya untuk mencegah ‘kerusakan’ lebih lanjut. Maka sesudah kami mendiskusikan hal tersebut, saya terus terang berkata, “I’m so sorry bos, I feel so stupid,” kata saya sambil tersenyum kecut.
“It’s ok. It’s my responsibility,” he said.
Tapi kata-katanya tidak menenangkan hati saya. Saya tetap merasa bertanggung jawab. Well, I don’t give my self much tolerance for any mistakes. Sedih rasanya…
Then someone said : menemukan kesalahan kata lainnya adalah menemukan petunjuk untuk merevisi atau melakukan update untuk suatu kasus :)
Hmmm…saya pikir itu benar. Kesalahan hanya akan menjadi kesalahan, apabila ditanggapi dengan berkeluh kesah, saling menyalahkan, dan tidak ada action untuk mencegah adanya kesalahan yang serupa terjadi lagi pada anggota tim. Kesalahan itu menjadi berguna ketika dengan terbuka dibicarakan, dicari apa penyebabnya, kemudian dicari jalan keluarnya. Kesalahan sebagai informasi untuk perbaikan.
Maka secara pribadi, saya mengidentifikasi penyebabnya, mungkin karena :
- tidak fokus : terlalu banyak hal dalam satu waktu ?
- tidak teliti : terburu-buru, dikejar tenggat waktu ?
- tidak prosedural : tidak melakukan cek dan re-cek ?
Hmmm... kalau itu penyebabnya, setidaknya saya tahu bagaimana mengantisipasinya. Terlebih setelah didiskusikan, alhamdulillah tetap ada jalan keluarnya.
Hmmm... then I can forgive my self, and focus on the next step. :)
Tuesday, January 24, 2006
Try to Communicate :)
Saya bayangkan kedua keponakan saya ini lagi ngobrol :
"Mas Kanza, ajarin Dila naik speda dooong..."
"Nanti dulu Dek, Dek Dila musti bisa merangkak dulu, trus bisa jalan, bisa lari, baru deeeh ntar Mas Kanza ajarin naek spedaaa...."
Friday, December 30, 2005
Lost in Perfection
”....we are the frontier... we know the best... “
Sebaris kata-kata itu menghembus muka saya.....
Wait a minute!
Dalam pemahaman saya, tidaklah benar untuk berpikir bahwa “saat ini kita yang terbaik”. Oh, itu akan fatal. Karna bisa menyebabkan kita berhenti belajar dan berhenti berkembang. Kita akan mandeg. Seperti katak dalam tempurung, yang tak mengerti musuh-musuh kita, competitor kita, ataupun sahabat-sahabat kita. Seperti tinggal di menara gading, yang tinggal tinggi di atas sana, yang hanya sibuk memuji diri sendiri tanpa tahu kualitas diri yang sebenarnya. You will be lost in your own perfection!!!
Padahal masih banyak hal yang harus dipelajari… Masih berjuta-juta hal baru yang mungkin akan kita temukan… Semakin kita banyak belajar, semakin banyak kita tahu bahwa masih banyak hal yang kita belum tahu....
*****
Well, moga2 apa yang belum tercapai tahun ini, akan tercapai tahun depan... Amien :)
Happy New Year!!
*****
Sebaris kata-kata itu menghembus muka saya.....
Wait a minute!
Dalam pemahaman saya, tidaklah benar untuk berpikir bahwa “saat ini kita yang terbaik”. Oh, itu akan fatal. Karna bisa menyebabkan kita berhenti belajar dan berhenti berkembang. Kita akan mandeg. Seperti katak dalam tempurung, yang tak mengerti musuh-musuh kita, competitor kita, ataupun sahabat-sahabat kita. Seperti tinggal di menara gading, yang tinggal tinggi di atas sana, yang hanya sibuk memuji diri sendiri tanpa tahu kualitas diri yang sebenarnya. You will be lost in your own perfection!!!
Padahal masih banyak hal yang harus dipelajari… Masih berjuta-juta hal baru yang mungkin akan kita temukan… Semakin kita banyak belajar, semakin banyak kita tahu bahwa masih banyak hal yang kita belum tahu....
*****
Well, moga2 apa yang belum tercapai tahun ini, akan tercapai tahun depan... Amien :)
Happy New Year!!
*****
Monday, December 19, 2005
saksi mata nih...
Well, saya mendapat kehormatan untuk menjadi saksi mata ketujuh* dari peristiwa berikut ini :

Yep, thats right. Dila udah dengan sukses tengkurep !!! Hehehe... congratulations !!! :)
*Tepatnya saksi mata setelah Ibunya, Bapaknya, Mas Kanza-nya, Embak, Om Oni, dan Om Nasrul (lumayan, saya masuk sepuluh besar :p).
Yep, thats right. Dila udah dengan sukses tengkurep !!! Hehehe... congratulations !!! :)
*Tepatnya saksi mata setelah Ibunya, Bapaknya, Mas Kanza-nya, Embak, Om Oni, dan Om Nasrul (lumayan, saya masuk sepuluh besar :p).
Tuesday, December 06, 2005
Sweet smile :)
Udah hari ketiga Adam dan Caca, keponakan tersayang, dirawat di RS karena demam berdarah. Kaget sekali kemarin dapat kabar trombosit Adam 71, Caca sekitar 100. Buru2 pulang kantor saya ke rumah sakit, liatin keduanya.
Alhamdulillah, ternyata Caca udah lepas infus. Adam masih diinfus tapi doyan maem. And gave me that sweet sweet smile.


Doooh Caca, kepanasan yaaa kok ga mau dikancingin sih bajunya :) Caca malah udah bisa bercanda, walopun masih anget badannya. Maemnya susah tapi jago minumnya jadi cepet pulih deh, amien.
'Ayo Ca, a' dulu doong...'
'nda mau, mau pake itan...'
'Ga ada ikan Ca, ini pake ati ama krupuk, enak deeeh...'
'maem ama ante...'
'Ya deeh, tapi maem yaaa...'
'Mau aus duluuu...'
'Minum trus maem yaaa...'
'Mau agel agel yang dibawain ante...'
'Ya, nanti abis maem yaaa...'
Hueee...akhirnya masuk juga maemannya, yang nyuapin ampe empat orang : Mama, Papa, Tante, dan Om. Terakhir pake sate ayam dari Papa-nya :)

Hari ini kabarnya duo ini udah baikan. Cepet sembuh yaa Adam and Caca, ntar main lagi :)
Oh ya, ini sekalian buat obat kangen tante-tante di Jogja.

Ada quartet lagi berpose...kok pada bengong siih??

Adila, cempluk banget :p

Adila lagi bobo, aduh pipinya digigit nyamuk :(
Alhamdulillah, ternyata Caca udah lepas infus. Adam masih diinfus tapi doyan maem. And gave me that sweet sweet smile.
Doooh Caca, kepanasan yaaa kok ga mau dikancingin sih bajunya :) Caca malah udah bisa bercanda, walopun masih anget badannya. Maemnya susah tapi jago minumnya jadi cepet pulih deh, amien.
'Ayo Ca, a' dulu doong...'
'nda mau, mau pake itan...'
'Ga ada ikan Ca, ini pake ati ama krupuk, enak deeeh...'
'maem ama ante...'
'Ya deeh, tapi maem yaaa...'
'Mau aus duluuu...'
'Minum trus maem yaaa...'
'Mau agel agel yang dibawain ante...'
'Ya, nanti abis maem yaaa...'
Hueee...akhirnya masuk juga maemannya, yang nyuapin ampe empat orang : Mama, Papa, Tante, dan Om. Terakhir pake sate ayam dari Papa-nya :)
Hari ini kabarnya duo ini udah baikan. Cepet sembuh yaa Adam and Caca, ntar main lagi :)
Oh ya, ini sekalian buat obat kangen tante-tante di Jogja.
Ada quartet lagi berpose...kok pada bengong siih??
Adila, cempluk banget :p
Adila lagi bobo, aduh pipinya digigit nyamuk :(
Thursday, November 24, 2005
Jauh di Mata....
...dekat di hati... sepenggal cerita pulang kampung….
Salah satu tradisi dengan sohib-sohib masa SMA adalah ngumpul bareng sambil makan-makan. Kalau dulu ketika masih kuliah dan semua masih tinggal di satu kota Djogja, moment ngumpul masih lebih sering, yaitu tiap ada yang ulang tahun. Itu pun bisa jadi 4 bulan sekali, soalnya ulang tahun beberapa orang digabung, biar bisa patungan gitu maksudnya, namanya juga masih mahasiswa :p
Tapi sekarang, setelah sudah pada kerja dan tinggal di kota, bahkan Negara, yang berbeda, acara ngumpul jadi makin jarang. Dari tahun ke tahun semenjak lulus kuliah, domisili tiap orang beda-beda, jadi peserta ‘reuni’ juga beda-beda.
Tahun ini, yang bisa ngumpul adalah aku sendiri, Ririn, Hanung (dan anak mereka Hanim), Dantok, Arik dan istrinya (Rani II …. Hehehe namanya sama sih, jadi dikasih angka II), Fikri dan keluarganya (istrinya Lia dan anak mereka Fadhil), dan Aan. Yeah anggota tetap yang tidak dating adalah Wika yang masih di Wonosobo bareng keluarga suaminya, Manik yang lagi berlibur di Bali, Singgih dan keluarganya yang di Palembang ngga mudik, dan Novi sekeluarga yang tinggal di Singapura tapi ternyata lagi mudik ke Bontang.
Tempat ngumpul kali ini dipilih rumah Hanung di Miliran. Dari janjian ngumpul jam 2 siang, nungguin yang punya rumah (aku nyampe sebelum tuan rumah hehehe terlalu rajin :p), nunggu Dantok dari Sukoharjo, trus keasyikan ngobrol (maklum lah, lamaaaa ngga ketemu), kita baru berangkat jam 4 sore. Apalagi Arik yang lagi kangen-kangenan ama Dantok, waa...apalagi kalo ada Manik yaa, candaan mereka itu loh. Hmmm... Hanim anteng selama perjalanan di pangkuanku, mungkin heran kali yaa, dengerin obrolan plus ketawa om-om dan tante-tantenya yang super rame.
Pertama-tama kita njemput Om Aan dulu, yang ternyata masih kudu dibangunin dulu gara-gara masih tidur. Aduuh, padahal sebelumnya dah ditelpon n disms, masiiih juga... Jadi sambil nunggu dia rapi-rapi, kita foto-foto dulu lah di teras rumahnya.

Dari rumah Aan, rombongan meluncur ke rumah Fikri yang Cuma selisih beberapa rumah dari rumah Aan. Beres deh, akhirnya jadi juga kita menuju tempat makan. Udah laper niih dari siang belum makan :p
Sampai di Moro Lejar (maap bukan maksudnya promosi, tapi ini tempat yang milih Bang Dantok ya, yang lain di larang protes yaa hehehe...), semua turun dari mobil dan langsung deh, Hanim keluar teriakannya ketemu ama Fadhil. Waaah akhirnya ketemu ama temen sebaya hihihi... anak berdua ini asik banget mainnya, dan tiap Fadhil mainan apa, diikutin deh ama Hanim. Kompak !!
Fadhil dan Hanim
Lucunya, tahun ini kita milih gubug di sebelah gubug tahun lalu, and di depan gubug tahun 1998. Hmmm foto tahun 1998 belum ketemu nih...
Alhamdulillah, setelah nunggu sekian lama, makanan datang juga. Tapi nunggunya ga terasa kok, soalnya ada atraksi dari Hanim dan Fadhil. Plus ngobrol ngalor ngidul. Plus nelponin yang kali aja lagi berjemur di Bali.... Manik, ngakunya lagi nyebrang Danau Bedugul. Loh, nyari apa Nik di seberang??? Hehehe...


Waah dah habis maemannya...
Habis itu nelpon Singgih di Palembang. Waah berarti udah dua kali lebaran Singgih and Family ga ke Yogya. Tapi ya maklum juga sih, lha kampung halamannya Cilacap ama Sukabumi hehehe.. Kita cuma bisa nitip salam buat Shafa yang cantik, n uminya Shafa tentunya, Helen. Menurut Dantok yang udah pernah ketemu Shafa di Palembang, Singgih’s baby’s so beautiful and cute deh. Hope someday i can visit them. And thanks to Dantok for the pulsa, hihihi...hp-nya jadi estafet gitu :D
Cantiknya Shafa..kapan ketemu yaa...
Novi? Wuaduuh…maap ya Nov, kita kira dirimu di S’pore jadi ga ada yang berani telpon hehehe...
Naura-nya Novi, dah bisa lari..
Wika… oh siangnya udah ditelpon, udah deh panjang banget ngomelnya gara-gara ga bisa dateng. Ternyata smsnya ajakan ngumpul ini ga kebaca gara-gara hp-nya jatuh di bawah tempat tidur. “Kok sekarang siiih, bukannya hari Rabu, biar aku bisa dateng??” Hehehe...maap Wik, maap, ada yang minta rubah hari tuuh, hehehe... Yah, tahun ini lebaran ngga ketemu Wika. Padahal tahun lalu kita malah sempat main ke rumah barunya loh, ada Rouf juga. :)
Naren-nya Wika, dan Fadhil, 2004
Hmmm...tahun depan moga2 bisa ngumpul lagi. Siapa aja yaa? Hmmm yg jelas Insya Allah akan ada anggota baru : adiknya Fadhil dan Hanim. Moga2 semua sehat and happy selalu. See you soon guys :)
Salah satu tradisi dengan sohib-sohib masa SMA adalah ngumpul bareng sambil makan-makan. Kalau dulu ketika masih kuliah dan semua masih tinggal di satu kota Djogja, moment ngumpul masih lebih sering, yaitu tiap ada yang ulang tahun. Itu pun bisa jadi 4 bulan sekali, soalnya ulang tahun beberapa orang digabung, biar bisa patungan gitu maksudnya, namanya juga masih mahasiswa :p
Tapi sekarang, setelah sudah pada kerja dan tinggal di kota, bahkan Negara, yang berbeda, acara ngumpul jadi makin jarang. Dari tahun ke tahun semenjak lulus kuliah, domisili tiap orang beda-beda, jadi peserta ‘reuni’ juga beda-beda.
Tahun ini, yang bisa ngumpul adalah aku sendiri, Ririn, Hanung (dan anak mereka Hanim), Dantok, Arik dan istrinya (Rani II …. Hehehe namanya sama sih, jadi dikasih angka II), Fikri dan keluarganya (istrinya Lia dan anak mereka Fadhil), dan Aan. Yeah anggota tetap yang tidak dating adalah Wika yang masih di Wonosobo bareng keluarga suaminya, Manik yang lagi berlibur di Bali, Singgih dan keluarganya yang di Palembang ngga mudik, dan Novi sekeluarga yang tinggal di Singapura tapi ternyata lagi mudik ke Bontang.
Tempat ngumpul kali ini dipilih rumah Hanung di Miliran. Dari janjian ngumpul jam 2 siang, nungguin yang punya rumah (aku nyampe sebelum tuan rumah hehehe terlalu rajin :p), nunggu Dantok dari Sukoharjo, trus keasyikan ngobrol (maklum lah, lamaaaa ngga ketemu), kita baru berangkat jam 4 sore. Apalagi Arik yang lagi kangen-kangenan ama Dantok, waa...apalagi kalo ada Manik yaa, candaan mereka itu loh. Hmmm... Hanim anteng selama perjalanan di pangkuanku, mungkin heran kali yaa, dengerin obrolan plus ketawa om-om dan tante-tantenya yang super rame.
Pertama-tama kita njemput Om Aan dulu, yang ternyata masih kudu dibangunin dulu gara-gara masih tidur. Aduuh, padahal sebelumnya dah ditelpon n disms, masiiih juga... Jadi sambil nunggu dia rapi-rapi, kita foto-foto dulu lah di teras rumahnya.
Dari rumah Aan, rombongan meluncur ke rumah Fikri yang Cuma selisih beberapa rumah dari rumah Aan. Beres deh, akhirnya jadi juga kita menuju tempat makan. Udah laper niih dari siang belum makan :p
Sampai di Moro Lejar (maap bukan maksudnya promosi, tapi ini tempat yang milih Bang Dantok ya, yang lain di larang protes yaa hehehe...), semua turun dari mobil dan langsung deh, Hanim keluar teriakannya ketemu ama Fadhil. Waaah akhirnya ketemu ama temen sebaya hihihi... anak berdua ini asik banget mainnya, dan tiap Fadhil mainan apa, diikutin deh ama Hanim. Kompak !!
Lucunya, tahun ini kita milih gubug di sebelah gubug tahun lalu, and di depan gubug tahun 1998. Hmmm foto tahun 1998 belum ketemu nih...
Alhamdulillah, setelah nunggu sekian lama, makanan datang juga. Tapi nunggunya ga terasa kok, soalnya ada atraksi dari Hanim dan Fadhil. Plus ngobrol ngalor ngidul. Plus nelponin yang kali aja lagi berjemur di Bali.... Manik, ngakunya lagi nyebrang Danau Bedugul. Loh, nyari apa Nik di seberang??? Hehehe...
Waah dah habis maemannya...
Habis itu nelpon Singgih di Palembang. Waah berarti udah dua kali lebaran Singgih and Family ga ke Yogya. Tapi ya maklum juga sih, lha kampung halamannya Cilacap ama Sukabumi hehehe.. Kita cuma bisa nitip salam buat Shafa yang cantik, n uminya Shafa tentunya, Helen. Menurut Dantok yang udah pernah ketemu Shafa di Palembang, Singgih’s baby’s so beautiful and cute deh. Hope someday i can visit them. And thanks to Dantok for the pulsa, hihihi...hp-nya jadi estafet gitu :D
Novi? Wuaduuh…maap ya Nov, kita kira dirimu di S’pore jadi ga ada yang berani telpon hehehe...
Wika… oh siangnya udah ditelpon, udah deh panjang banget ngomelnya gara-gara ga bisa dateng. Ternyata smsnya ajakan ngumpul ini ga kebaca gara-gara hp-nya jatuh di bawah tempat tidur. “Kok sekarang siiih, bukannya hari Rabu, biar aku bisa dateng??” Hehehe...maap Wik, maap, ada yang minta rubah hari tuuh, hehehe... Yah, tahun ini lebaran ngga ketemu Wika. Padahal tahun lalu kita malah sempat main ke rumah barunya loh, ada Rouf juga. :)
Naren-nya Wika, dan Fadhil, 2004
Hmmm...tahun depan moga2 bisa ngumpul lagi. Siapa aja yaa? Hmmm yg jelas Insya Allah akan ada anggota baru : adiknya Fadhil dan Hanim. Moga2 semua sehat and happy selalu. See you soon guys :)
Subscribe to:
Posts (Atom)